Banner Atas

Metamorfosa Seorang Ambu

Bagikan Berita:

“AMBU sudah menunggu sejak setengah jam lalu,” tutur seorang lelaki jangkung tegap saat purwasukanews tiba di Posko Pemenangan Anne-Aming, Jalan RE Martadinata Purwakarta, Kamis siang 29 Maret 2018.

HADEUH, ternyata Ambu datang lebih dulu daripada purwasukanews. Jadi malu hati. Tanpa ba bi bu, lelaki tegap itu menyilakan purwasukanews masuk ke ruang tamu. Ambu sudah duduk di sofa. Meja dipenuhi pengananan berupa cireng dan bakwan.

Belakangan ini merupakan hari-hari terpadat bagi Ambu. Dia harus keluar masuk kampung menyapa masyarakat Purwakarta. Ya, saat ini memang sedang berlangsung masa kampanye. Bersyukur di antara agendanya yang padat itu, dia menyempatkan waktu untuk sesi wawancara dengan purwasukanews.

“Siapa Ambu?” Itu barangkali pertanyaan yang ada di benak publik. Selama ini Ambu yang bernama lengkap Anne Ratna Mustika ini hanya dikenal sebagai istri Dedi Mulyadi (DM). Betul, DM, mantan Bupati Purwakarta yang sedang ikut konstestasi di Pilgub Jawa Barat.

Ketika Ambu memantapkan diri maju dalam Pilbup Purwakarta, wajar jika orang-orang ingin lebih tahu siapa sosok ini. Seperti apa pandangan politiknya, obsesinya, sampai hobi yang digelutinya.

Inilah rangkuman wawancara purwasukanews dengan Ambu yang berlangsung sekitar satu jam.

Purwasukanews (PN): Anda mencalonkan diri menjadi bupati yang merupakan jabatan politis. Makna politik bagi Anda?

Ambu (A): Dengan melibatkan diri di kancah politik secara praktis, semakin memudahkan saya untuk mengejawantahkan apa yang diharapkan masyarakat.

PN: Konkretnya?

A: Bagi saya politik merupakan jembatan antara seorang politikus dengan masyarakat. Melalui politik kita tahu apa yang diidamkan masyarakat. Pada akhirnya kita mencari solusi untuk mewujudkan harapan mereka.

PN: Kapan mulai membuka diri untuk dunia politik?

A: Sejak saya memutuskan menikah dengan Kang Dedi, dengan sendirinya sejak itu saya tahu konsekuensi sebagai istri seorang politikus. Awalnya terasa kaget. Tapi saya bisa beradaptasi. Banyak pembelajaran politik yang mengalir begitu saja di lingkungan rumah.

PN: Kapan memulai terjun di politik praktis?

A: Pada 2012 silam, saya dipercaya menjadi Ketua DPD Al Hidayah, organisasi sayap Golkar yang terfokus pada aktifitas pengajian. Di komunitas itu terjalin interaksi. Segala hal tentang sosial kemasyarakatan. Tentang apa yang diinginkan masyarakat: harapan, pengalaman, obsesi, dan keluh kesah mereka.

PN: Lantas?

A: Karena saya istri pengurus Golkar dan istri bupati, ya saya sampaikan kepada suami apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Saya sampaikan aspirasi mereka.

 PN: Suami mau menerima?

A: Tentu saja. Masukan itu bisa bersumber dari mana saja. Yang tak boleh saya lakukan adalah, ketika sebagai istri seorang bupati, saya ikut nimbrung dalam urusan birokrasi.

PN: Setelah 2012, bagaimana prosesnya sehingga akhirnya menghantarkan Anda menjadi calon bupati?

A: Sekitar 2015, jauh sebelum figur-figur lain bermunculan untuk menjadi bakal calon, saya sudah ada yang mewacanakan. Bukan inisiatif saya, tapi dari sejumlah komponen. Mereka menilai saya memiliki elektabilitas jika ikut ‘nyalon’.

PN: Anda merespons?

A: Tidak. Saat itu masih banyak pertimbangan. Suami saya pun bilang tidak. Tapi periode 2015-2017, menurut hasil survei, elektabilitas saya selalu teratas. Hingga akhirnya pada 18 September 2017 suami meminta saya agar lebih intens turun ke lapangan untuk bersilaturahim dengan masyarakat. 

PN: Waktu itu sudah mantap ‘nyalon’?

A: Belum. Tetap masih banyak pertimbangan. Dan perang batin itu terus berlangsung sampai Desember 2017, sebelum surat keputusan (SK) dari parpol pendukung turun.

PN: Sebenarnya apa pertimbangan yang paling diperhitungkan dan sangat mendasar?

A: Saya berfikir, banyak kok figur lain yang mampu menggantikan posisi suami saya. Asalkan memiliki frame pemikiran yang sama, yang memiliki satu visi, dan mampu meneruskan apa yang telah diperbuat suami untuk Purwakarta.

PN: Setelah itu akhirnya Anda memantapkan langkah?

A: Terus terang, sepuluh menit sebelum mendaftar ke KPU pun, masih dirembukkan apakah saya perlu maju atau tidak.

PN: Dan akhirnya maju kan?

A: Ya, faktanya seperti itu.

 

Anne Ratna Mustika alias Ambu, resmi menjadi calon bupati setelah didukung oleh enam partai politik. Perempuan kelahiran Cianjur 28 Januari 1982 ini berpasangan dengan Aming.

Sejumlah organisasi dijabatnya. Diantaranya menjadi Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia, Ketua Pramuka Kwarcab Purwakarta, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah, dan Ketua Dekranasda Purwakarta. Ambu menyelesaikan pendidikannya di STIE Wikara Purwakarta pada 2012.

Setelah memantapkan diri ikut dalam kontestasi Pilbup Purwakarta 2018, Ambu terus bergerak. Bersama tim pemenangan dan unsur parpol pendukungnya, dia menyapa masyarakat Purwakarta di semua lini.

Di benaknya, sudah ada seabrek program yang akan digulirkan jika terpilih nanti.

 

PN: Jika kelak diberi amanah menjadi Bupati Purwakarta, apa langkah pertama yang hendak Anda lakukan?

A: Mengelola pemerintahan (daerah) perlu soliditas para aparaturnya. Program sebagus apapun tak akan berjalan optimal apabila aparaturnya tidak satu persepsi. Untuk itu, saya akan berbuat sedemikian rupa sehingga bisa mengajak para aparatur memiliki persepsi yang sama tentang Purwakarta. Akan dilakukan pembenahan di kalangan birokrasi.

PN: Misalnya?

A: Misalnya, menempatkan seseorang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. The right man on the right place.  

PN: Hal lain?

A: Di bidang kesehatan, diperlukan dana besar untuk meng-cover keluarga tak mampu agar bisa berobat gratis. Untuk itu saya akan mengintensifkan Jampis. Catatan saya, ada sekitar 50 ribu orang warga yang memerlukan Jampis. Masih di bidang kesehatan, saya memiliki sebuah obsesi yang ingin sekali saya wujudkan.  

PN: Apa itu?

A: Saya ingin setiap pusat keramaian di Purwakarta memiliki Ruang Laktasi, ruang khusus bagi ibu untuk menyusui bayinya. Di ruang itu, selain menyusui, sang ibu bisa melakukan hal lain untuk keperluan bayi, semisal mengganti popok.

PN: Realistis untuk diwujudkan?

A: Mengapa tidak. Toh untuk membuat Ruang Laktasi, tak terlalu memerlukan dana besar. Saya ingin sang ibu punya ruang privasi meski berada di keramaian. Ini untuk memuliakan dan menghormati para ibu.

Dari aspek agama pun, ini sangat dianjurkan. Untuk pengadaan Ruang Laktasi, sudah saya perjuangkan sejak 2012. Sebenarnya sudah dibuat Peraturan Bupati (Perbup). Namun regulasi itu belum berjalan karena terkendala beberap hal.

PN: Lantas, bagaimana soal pendidikan di Purwakarta?

A: Di bidang pendidikan, perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana, baik secara kuantitas maupun kualitas. Perlu juga adanya pemerataan dan ratio guru. Ini penting agar akses pendidikan juga bisa dinikmati peserta didik secara merata pula.

PN: Masih soal Pilkada, apa pendapat Anda soal Politik Dinasti yang saat ini menjadi isu yang banyak diperbincangkan?

A: Akan saya buktikan bahwa menjadi calon bupati bukan karena kebesaran nama suami. Saya ingin menunjukkan kapabilitas dan kompetensi. Saya adalah seorang Anne Ratna Mustika yang juga punya kemampuan seperti orang lain. Lagi pula, tak ada undang undang yang melarang seorang istri menjadi bupati.

 

Ambu tampak energik meski belakangan ini kegiatannya semakin padat. Rahasianya, dia berolahraga secara rutin. Perempuan yang memiliki tinggi badan 168 Cm ini, gemar senam aerobic, yoga, zumba, dan bally dance.

Dia pun selalu tampak modis. Jangan heran jika masyarakat yang dikunjungi Ambu, betah berlama-lama dengannya. Di setiap tempat yang dikunjunginya, selfi bersama warga sudah menjadi hal lumrah. Warga merasa bangga jika bisa berpose bersanding dengan Ambu.

 

PN: Ngomong-ngomong, apa kegiatan Anda belakangan ini di samping urusan pilkada?

A: Sesibuk bagaimanapun, saya tetap memiliki waktu yang cukup untuk keluarga. Kegiatan kampanye rampung pukul 18.00. Selepas itu, saya manfaatkan untuk kumpul bersama keluarga. 

PN: Apa yang biasa dilakukan di rumah?

A: Membaca buku. Ini kebiasaan yang ditularkan suami. Kebiasaan membaca bukan saja dilakukan di rumah, tetapi di mana saja, misalnya di mobil.  

PN: Buku apa yang biasa dibaca?

A: Semua jenis buku saya lahap, terutama buku-buku motivasi dan keagamaan (Islam). Saya punya perpustakaan kecil di rumah. Koleksi buku saya lumayan. Setiap tahun di hari ulang tahun saya, kado langganan dari suami adalah buku.

PN: Oh begitu?

A: Iya! Malah pada hari pernikahan pun, suami menghadiahi saya sebuah buku. Buku tentang perjalanan hidup Fatimah Azzahra, puteri Rasulullah.

PN: Menurut Anda, minat baca di Purwakarta sudah cukup bagus belum?

A: Dengan sangat menyesal saya harus katakan bahwa minat baca masyarakat Purwakarta masih rendah. Makanya saya terus bergerak untuk menumbuhkannya. Bidang literasi mesti diberi ruang. Tak cukup hanya di lingkungan sekolah.

PN: Apa rencana konkretnya?

A: Agar membaca menjadi kegiatan menarik dan tak membosankan, diperlukan upaya tersendiri. Misalnya, menyediakan tempat membaca dengan konsep kekinian, di mana di dalamnya ada sentuhan teknologi. Sebuah tempat yang nyaman, yang memotivasi orang agar pada akhirnya menjadi senang membaca.

PN: Misalnya?

A: Insha Allah saya ingin membangun areal baca di halaman Masjid Raya Cilodong. Saya ingin memberinya nama Taman Literasi Syariah.

PN: Punya tokoh favorit?

A: Saya pengagum berat Ibu Ratna Megawangi, pencetus pola pendidikan berbasis holistic. Saya salut dengan gagasannya. Beliau membuka paradigma baru bahwa pendidikan memang harus melibatkan semua pihak secara paripurna, bukan antara guru dan murid semata.

 

Rampung menjalani pendidikan di SMAN 1 Cikalongkulon Cianjur, Ambu memutuskan pindah ke Purwakarta, ikut bersama pamannya, almarhum H Bunyamin Dudih yang saat itu menjabat Bupati Purwakarta.

Saat itu Dedi Mulyadi adalah seorang anggota DPRD Purwakarta. Kemitraan kerja antara lembaga legislatif dan eksekutif, dengan sendirinya membuat Bunyamin Dudih dan Dedi Mulyadi sering berinteraksi.

Dari sanalah Ambu dan Dedi saling mengenal. Awal perkenalan, Ambu tak terlalu suka dengan sosok Dedi Mulyadi. Maklum, Dedi sebagai anggota dewan kerap mengkritik kebijakan Bunyamin Dudih. Namun pada akhirnya, jodoh mempersatukan mereka. Pasangan ini resmi menikah pada 15 Februari 2003.

 

PN: Apa hebatnya seorang Dedi Mulyadi di mata Anda?

A: Selain kepala rumah tangga, beliau adalah guru politik bagi saya. Pemikirannya unik. Sering memiliki pemikiran visoner yang berbeda dengan kebanyakan orang. Pokoknya dia itu out of the box-lah.

PN: Apa kelemahannya yang perlu Anda kritik?

A: Saya melihat banyak gagasannya yang cemerlang untuk Purwakarta, tapi saat gagasannya itu diinformasikan kepada publik, terjadi salah persepsi. Ada distorsi informasi. Jadi, komunikasi dengan masyarakat harus lebih dibenahi, agar tak lagi terjadi distorsi.

PN: Untuk tataran teknis, kan ada dinas yang membantu munculnya gagasan itu?

A: Iya, untuk itulah, dinas teknis juga memang perlu lebih agresif. Sebab yang saya tahu, komitmen suami saya untuk Purwakarta begitu tinggi.

PN: Pola pendidikan seperti apa yang Anda terapkan kepada anak-anak di rumah?

A: Di rumah, saya menerapkan pola pendidikan berkarakter yang dicanangkan suami. Pola itu sudah lebih dari cukup. Di dalamnya mencakup banyak aspek yang perlu diaplikasikan. Karena pendidikan bukan sekadar urusan baca, hitung dan tulis.

PN: Sepanjang mendampingi suami selama menjabat sebagai bupati, punya pengalaman buruk?

A: Ada.

PN: Apa?

A: Saat itu suami saya baru saja menjabat sebagai bupati. Ada satu kebijakan atau pemikirannya yang dianggap keliru oleh sebagian pihak. Pada sebuah malam, rumah dinas didatangi ratusan orang dengan menggunakan sepeda motor.

PN: Lalu?

A: Suami saya sedang tak ada di rumah. Sangat manusiawi kalau saya waktu itu ketakutan. Terlebih anak saya waktu itu masih balita. Sementara di luar rumah suara knalpot meraung-raung, disertai teriakan kotor bernada caci maki. 

Saya membawa anak saya ke kamar pembantu. Saya tak ingin anak saya mendengar teriakan-teriakan kotor. Saya tak ingin anak saya terdampak secara psikologis.

PN: Pengalaman lain?

A: Saat berusia 5 tahun, sepulang mengaji anak saya dititipi secarik surat oleh seorang tak dikenal. Surat itu berisi makian dan tudingan kepada suami saya. Bersyukur, anak saya waktu itu belum bisa membaca. Jadi dia tak tahu apa isi surat itu.

Saya sudah banyak ditempa, termasuk oleh pengalaman terpahit sekalipun. Dan nyatanya mampu melampauinya. Nah, dengan pengalaman seperti itu pun saya mampu melampauinya, apalagi menghadapi hal-hal yang remeh temeh. Saya sudah terbiasa.

PN: Ngomong-ngomong, apa sih motto hidup Anda?

A: Motto saya sangat sederhana, tetapi memiliki makna mendalam: ‘Setiap masalah pasti ada jalan keluar’.

PN: Pesan Anda untuk masyarakat Purwakarta?

A: Mari dukung dan lanjutkan apa yang telah diperbuat Bupati Dedi Mulyadi untuk Purwakarta.

 

Dan Ambu memang mengaku siap melanjutkan apa yang telah ditorehkan suaminya untuk Purwakarta. Dia dan pasangannya, Aming, optimistis akan memenangi kontestasi demokrasi ini.

Seorang Anne Ratna Mustika, kini bukan lagi istri seorang bupati, tetapi berniat menggantikan posisi suaminya. Dia terus bermetamorfosa.*(bes)

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Perangi Narkoba, Dewan Apresiasi Kinerja Polres https://t.co/piz8wfBWd4
PurwasukaNews.com
Takut Terjangkit Rabies, Ratusan Binatang Disuntik Massal https://t.co/7hoVodMSxh
Follow PurwasukaNews.com on Twitter