Banner Atas

Ramlan Maulana, Ketua KPUD Purwakarta: ‘Publik Wajib Tegur KPU’

Bagikan Berita:

Pilkada melahirkan sebuah ketegangan. Itu biasa. Namanya juga pesta demokrasi, selalu bersinggungan dengan perbedaan keinginan dan warna-warni persepsi.

PENYELENGGARA Pilkada harus memiliki mental yang teruji. Tugasnya berisiko karena menyangkut kepentingan umat. Penyelenggara bermental lembek akan tergerus.

Seorang Ramlan Maulana, M.Hum sadar bahwa sebagai pucuk pimpinan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purwakarta, dia harus mengejawantahkan Pilkada Purwakarta sebagai Pilkada yang berkualitas.

Makanya, hari-hari Ramlan adalah hari-hari di mana dia disibukkan oleh urusan Pilkada. Di kantor KPU, lelaki kelahiran Purwakarta, 26 Oktober 1982 mengesampingkan rasa lelah. Ini untuk memastikan bahwa lembaga yang dipimpinnya ini berjalan sesuai yang diharapkan publik.

Mental Ramlan diuji ketika pada 10 Januari lalu dia bersitegang dengan tim pasangan Rustandie-Dikdik Sukardi. Saat itu, hari terakhir pendaftaran pasangan calon. Publik Purwakarta disodorkan fakta adanya Surat Keputusan (SK) ganda Partai Hanura.

SK yang kedua-duanya berasal DPP itu, dituding sebagai biang keladi kisruhnya suasana pendaftaran. Kekisruhan berakhir dengan ditolaknya pasangan itu oleh KPU. Sengketa ini dibawa ke Panwaslu dan saat ini sudah sampai ke tahap kasasi di MA.

Ramlan menjelaskan, ada beberapa poin penting mengapa pihaknya menolak berkas pasangan calon yang diusung Partai Gerindra dan Hanura itu.

“Pasangan calon Rustandie-Dikdik diajukan gabungan parpol yang salah satu parpol pengusungnya telah bergabung dengan gabungan parpol lain yang telah mendaftarkan bakal pasangan calon (bapaslon) tertentu,” kata pria yang gemar menonton film dan sepakbola ini.

Prinsipnya, menurut dia, KPU tidak bisa menerima pengajuan dua nama bapaslon yang diajukan parpol yang sama. Baik parpol itu bergabung dengan parpol lain ataupun tidak.

Selain itu, hasil komunikasi KPU Purwakarta dengan KPU RI dan KPU Provinsi Jabar,  adalah tidak dibenarkan jika satu parpol mendaftarkan dua bapaslon. 

“Dan parpol tidak bisa membatalkan SK persetujuan bapaslon yang telah didaftarkan ke KPU.  Kami melaksanakan hal tersebut sesuai amanat regulasi,” imbuhnya.

Terikat Kode Etik

Beranjak dari adanya kekisruhan itu, Ramlan mesti menelan penilaian yang beragam. Banyak yang memujinya karena keputusan yang diambil KPU sudah tepat. Tapi tak sedikit pula yang menuding bahwa keputusan itu sebagai indikator bahwa Ramlan condong ke salah satu pasangan calon.

Menanggapi tudingan itu, Ramlan yang pernah menjadi dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam dan Psikologi Agama di STAINU Purwakarta selama enam tahun ini, tentu saja menampiknya.

“Barangkali orang melihat saya sebagai sosok sebelum masuk ke KPU. Di lembaga sebelumnya, tak mungkin saja saya mesti berhubungan dengan pemerintah, karena kepentingan lembaga tersebut. Tapi setelah saya total di KPU, saya terikat oleh kode etik,” katanya.

Yang pasti, kata dia, harapan terbesarnya sepanjang duduk di KPU, adalah menciptakan Pilkada Purwakarta yang sukses tanpa ekses. Sebuah harapan yang memang didambakan oleh publik Purwakarta.

“Itu yang menjadi visi besar kami. Sukses tanpa ekses pada semua tahapan, yakni dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Itu yang kemudian kami sebut sebagai Tri Sukses,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, Ramlan menyilakan masyarakat untuk memberi masukan agar dia dan jajarannya tetap istikomah pada rel aturan. “Jika ada kinerja kami yang dianggap janggal dan menyimpang, masyarakat berhak dan wajib menegur kami,” tuturnya.

Agar kinerjanya tak dianggap janggal, yang perlu dilakukan adalah bekerja sesuai regulasi yang ditetapkan, “Saya bekerja mengikuti aturan yang ada, bukan karena pesanan pihak tertentu,” tambah dia.

Siapa Ramlan?

Sebelum menjabat KPU Purwakarta, Ramlan sudah malang melintang dalam berbagai organisasi. Dia juga kerap menjadi narasumber sejumlah seminar dengan berbagai tema.

Pria yang tinggal di Jalan Basuki Rahmat No 20 RT 2/1 Kelurahan Sindangkasih Purwakarta ini, menjadi Ketua KPU Purwakarta menggantikan Deni Ahmad Haidar yang mengundurkan diri.

Ramlan pernah menjadi Dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam dan Psikologi Agama STAINU Purwakarta selama enam tahun. Dia merupakan jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha Jakarta, dan menyelesaikan program pendidikan S2-nya di STAINU Jakarta.

Ramlan yang memiliki motto sederhana dalam sikap, kaya dalam karya ini pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) STAINU Purwakarta.

Pernah pula dia menjadi Direktur dan Trainer di Pusat Solidaritas Sosial Kemasyarakatan (PS2K) Purwakarta. Sedangkan pengalaman kerja yang pernah dilakoninya yakni Sekretaris Eksekutif Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU (Lakpesdam NU) selama lima tahun.

Pengalaman lain pria pengagum Gus Dur ini, yakni menjadi Penanggung Jawab dan Fasilitator Senior Program Pengentasan Buta Huruf dalam Program Keaksaraan Fungsional Lakpesdam NU Purwakarta.

Hasil pernikahannya dengan Ana Durotunnapisah, S.Pd.I, dia dikaruniai empat orang anak bernama Nakhla Raihani, M Maula Aflaha, Nida Aulia Ramadhani, dan M Raihan Subhi.(bes)

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
22 Warga Maniis Keracunan Massal https://t.co/COVUCjMnAh
PurwasukaNews.com
Di Darangdan, Ular Kobra 3 Meter Ditemukan di Dapur https://t.co/2AY9ietJGx
Follow PurwasukaNews.com on Twitter