Banner Atas

[OPINI]: Lucky Bamala

Bagikan Berita:

oleh: Tatang Budimansyah

Lucky berarti keberuntungan. Sedangkan bamala merujuk kepada salah satu calon Wakil Bupati Purwakarta. Boleh juga lucky merupakan pelesetan dari luthfi, kata yang berendengan dengan bamala.

YA, Luthfi Bamala. Luthfi yang lucky, yang beruntung. Yang buru-buru putar haluan, menyandingkan diri dengan Zaenal Arifin. Sebelum memilih jalur perseorangan, langkah Luthfi merambah ke mana-mana.

Sejumlah partai politik dilamar. Dia mencari peruntungan di sana. Dan sebelum partai-partai politik yang dilamarnya mengumumkan calon yang diusung, Luthfi hengkang. Pada saat bersamaan belasan bakal calon lainnya berkutat dalam situasi ketidakpastian.

Mereka menghitung hari. Atau mendengar suara tokek, sembari berharap suara binatang totol-totol itu jatuh pada hitungan yang menguntungkan.

Luthfi tidak termasuk di dalamnya. Entah apa yang ada di benaknya waktu itu. Apakah dia membaca firasat, bahwa jika terus berkutat menunggu keputusan parpol, dia akan terhempas seperti bakal calon lainnya? Entah.

Yang jelas, tanpa parpol yang mengusung, Luthfi bisa melenggang ke kantor KPU. Sementara para bakal calon lainnya yang tak terusung menyemburkan sumpah serapah.

Undang Undang Pilkada yang sentralistis dalam pengusungan calon, sepertinya bisa dikatakan sebagai biang keladi atas lahirnya kekecewaan para bakal calon.

Pasangan calon yang diusung harus lahir dari surat keputusan (SK) pengurus pusat parpol, dianggap sebagai sebuah penjara bagi elit parpol di daerah. Otoritas para pengurus parpol di daerah merasa dibatasi. Bahkan konon nyaris dinihilkan.

Tapi jangan salah. Sistem yang sentralistis itu, bisa juga menjadi ajang bagi para elit di daerah untuk ‘lempar batu sembunyi tangan’. Mereka bermuka manis kepada para bakal calon sambil menjajakan iming-iming.

Dan ketika yang diberi iming-iming itu tak jadi diusung, para elit kompak bersuara: ‘Itu kewenangan pengurus pusat’. Padahal iming-iming yang dijajakannya tak gratis. Ada angka-angka yang menyertainya. Paling tidak, itu menurut pengakuan beberapa bakal calon.

Hari-hari terakhir sebelum 10 Januari 2018, adalah hari-hari di mana jantung para bakal calon berdegup lebih cepat. Sekali lagi, Luthfi tak termasuk di dalamnya. Dia sudah enjoy dengan pilihannya. Dia ke KPU bersama Zaenal Arifin tanpa diantar orang-orang berbaju parpol.

Setelah berhasil mendaftar ke KPU dan pada 12 Februari nanti dinyatakan lolos dalam penetapan, itu bukan bukan akhir perjuangan. Genderang perang justru mulai ditabuh sejak 12 Februari.

Dua pasangan lain yang diterima KPU adalah Anne Ratna Mustika-Aming dan Padil Karsoma-Acep Maman. Sedangkan Rustandie-Dikdik Sukardi terbentur lantaran adanya SK ganda dari Partai Hanura. Pasangan ini sedang berjuang di PTUN.

Kita asumsikan dulu yang menjadi seteru Zaenal Arifin-Luthfi-Bamala (Zalu) adalah pasangan yang telah diterima KPU, yakni Anne-Aming dan Padil-Maman.

Tak mudah bagi Zalu mendulang jumlah suara melebihi dua pasangan yang menjadi rivalnya. Sebaliknya, peluang untuk menang, juga terbuka lebar. Tinggal bagaimana strategi yang mesti diambil Zalu agar rakyat mencoblosnya.

Ruang dengan Atmosfer Berbeda

Zalu mesti memberi alasan konkret mengapa rakyat tak ragu memilihnya. Zalu mesti memiliki ruang untuk disemayami rakyat, di mana pasangan lain tak memilikinya.

Ruang itu haruslah tempat yang baru dan nyaman, dengan cat yang berbeda warna. Sebuah ruang yang memiliki atmosfer lain, dan tak terkooptasi oleh rezim-rezim Purwakarta terdahulu.

Sosok Zaenal Arifin yang berlatangbelakang akademisi, tentu memiliki kadar intelektualitas yang mumpuni. Terlebih, Zaenal berhasil mencitrakan diri sebagai sosok yang agamis. Dia dikenal dekat dengan kalangan ulama.

Zaenal nol pengalaman dan belum pernah menceburkan diri dalam tata kelola birokrasi. Kendati begitu, tampaknya dia akan lebih mudah beradaptasi dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Luthfi Bamala, memiliki massa dari Kompak, sebuah LSM yang dipimpinnya. Lembaga ini bisa menjadi bumerang yang menerpurukkan Luthfi, atau menjadi nilai tambah untuk menghantarkannya ke kursi wakil bupati.

Dari sisi ini, Luthfi belum tentu lucky. Ini tergantung kecerdasan dia dalam mengelola Kompak. Adalah fakta yang tak bisa dibantah bahwa di negeri ini eksistensi LSM kerap diidentikkan dengan perangai keras, bergajul, urakan, bahkan destruktif.

Itu hukum sebab akibat. Penilaian masyarakat tersebut lahir karena melihat segelintir LSM berperilaku seperti yang disebutkan tadi. Nah, inilah tantangan bagi seorang Luthfi.   

Sejauh pengamatan, ada itikad Kompak untuk menghapus citra bahwa LSM itu lembaga yang bergajul. Kesan sangar berupaya ditanggalkan. Berganti dengan upaya menebar kesantunan dan welas asih.

Untuk kepentingan Pilkada 2018, Zalu (khususnya Luthfi) tak perlu menyembunyikan Kompak. Seperti elemen lain, gerbong itu harus pula diangkut. Masalahnya, ya itu tadi, tinggal bagaimana Lutfhi memainkan kreatifitasnya mengelola Kompak.    

Misalnya, dengan tak henti-henti menihilkan stigma LSM yang kadung melekat. Lutfhi perlu mengontrol pasukannya itu agar tetap menjaga kesantunan saat berkegiatan di lapangan, terlebih jika kegiatan itu untuk kepentingan Pilkada 2018. Jangan sampai terjadi kontraproduktif.

Jika Luthfi berhasil, dia bakal mendapat faedah politis dan psikologis. Faedah politis terasa ketika publik bersimpatik kepada Kompak dan mereka akhirnya mencoblos komandan Kompak yang ikut menjadi peserta pilkada.

Faedah psikologis, adalah ketika mata publik mulai terbuka bahwa perangai LSM tak melulu berkaitan dengan hal-hal yang buruk. Bisa jadi Kompak menjadi pelopor bagi LSM lain jika gencar melakukan aktifitas yang humanis.

Ikhwal pasangan lainnya, yakni Padil-Maman dan Anne-Aming, juga bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Zalu. Ya, menjadi keuntungan karena dua pasangan itu (kecuali Acep Maman) merupakan bagian dari rezim Dedi Mulyadi.

Jika disekat menjadi dua bagian, pemilih akan disodorkan pada dua pilihan: sosok yang menjanjikan perubahan, atau sosok yang siap meneruskan pencapaian yang telah dilakukan Dedi Mulyadi.

Yang menarik adalah pasangan Padil-Maman. Pasangan ini mau tak mau harus berani keluar dari kungkungan rezim Dedi. Tak boleh berada di wilayah abu-abu. Sebab jika tidak, diprediksi masyarakat yang pro Dedi akan condong mencoblos Anne, istrinya.

Padil harus memiliki semangat konfrontatif. Tapi itu bukan berarti dia mesti seenaknya menyerang rezim Dedi secara hantam kromo. Semangat itu mesti mengejawantah dan tertuang dalam visi-misinya.      

Pada akhirnya, tiga pasangan calon bukan hanya dilirik dari sisi kapabilitasnya. Kapabilitas  adalah sebuah keniscayaan. Dan elektabilitas adalah soal selera.

Keduanya tak selalu berjalan secara linier. Elektabilitas bisa ditarik-ulur. Karenanya, lahirlah apa yang disebut sebagai fragmatisme.**

Penulis adalah penikmat Pers   

Jatiluhur, 4 Februari 2018

 

 

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Ketua KPU Ingatkan Caleg Tak Bodohi Masyarakat https://t.co/k35o1eaUjW
PurwasukaNews.com
41 Dewan Petahana Purwakarta Enggan Tinggalkan Jabatan https://t.co/ZKNac7GFXM
Follow PurwasukaNews.com on Twitter