Banner Atas

Akar Radikalisme di Kampus

Bagikan Berita:

oleh : Asep Gunawan*

Diskursus tentang bahaya radikalisme tak pernah surut. Seiring masih masifnya gerakan ini, diskusi untuk antisipasinya semakin penting. Apalagi ditenggarai, gerakan ini sekarang bukan hanya domain kelompok menengah ke bawah secara intelektual, tetapi sudah menyasar ke strata intelektual lebih tinggi.

SETIDAKNYA, dari kasus bom bunuh diri terakhir di Surabaya, terduga pelakunya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dan bahkan dalam kasus di Riau, Densus 88 sampai harus merangsek masuk ke wilayah yang seharusnya senjata laras panjang diharamkan, yakni wilayah kampus.

Baru-baru ini, Staf Khusus Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Arif Tugiman, merilis sebuah hasil penelitian bahwa terdapat tujuh perguruan tinggi negeri terindikasi terpapar radikalisme (Sabtu, 17 Nopember 2018).  

Memang terlalu dini untuk disimpulkan bahwa kemampuan gerakan ini semakin meningkat. Namun, fenomena di atas menyiratkan bahwa bahaya radikalisme masih tetap ada dan bahkan terlihat lebih eksis meningkatkan kemampuannya dengan upaya merekrut anggota dari kelompok strata intelektual lebih tinggi.

Sampai di sini terlihat seperti ada kontradiksi. Harusnya, semakin tinggi derajat intelektualisme seseorang, maka akan semakin tinggi pula wisdom dimiliki. Kekerasan dan teror jelas di luar kamus dan kaidah intelektualisme.

 Nalar Linier

 Mengapa kelompok intelektual di perguruan tinggi bisa terpengaruh? Idealnya, dengan sejumlah perangkat nalar akademik, kelompok intelektual dapat berpikir kritis-dialektik. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nalar akademik seakan mati kutu vis a vis doktrin monolitik radikalisme.

 Nalar ilmiah tidak berdaya berhadapan dengan indoktrinasi jihad “kekerasan”. Di sinilah sesungguhnya letak keunggulan kelompok ini. Metode brain washing mereka kenyataannya lebih unggul dibandingkan perangkat keilmuan yang dicangkokkan di kampus.

 Realitas ini pernah diungkapkan Prof. Sarlito Wirawan (psikolog UI). Dalam buku “Terorisme di Indonesia Dalam Tinjauan Psikologi” yang dinarasikan sebagai analisa psikologis terhadap para pelaku Bom Bali I, Prof. Sarlito menemukan fakta bahwa secara kognitif para pelaku radikalisme memiliki konstruksi kognitif yang sederhana.

Sebagai orang-orang sederhana, beberapa dari mereka bahkan memiliki pendidikan terbatas dan hampir tidak ada pengalaman di luar komunitasnya. Mereka cenderung berpikir dan bersosialisasi secara linier, tidak memiliki pengetahuan pembanding untuk antitesanya.

Yang mereka lakukan hanyalah berpegang pada ajaran Islam monolitik yang diajarkan ustadz-ustadz mereka. Orang-orang dengan tipe seperti ini sangat lemah dan rentan untuk dipengaruhi oleh pemimpin Islam radikal.

Namun begitu, menurut Prof. Sarlito, di balik motivasi yang terungkap secara verbal, terdapat pula motivasi implisit seperti kebutuhan atas identitas diri, kebutuhan untuk diakui, serta kebutuhan atas harga diri. Mayoritas pelaku berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah tanpa pekerjaan permanen.

Mereka membutuhkan status untuk meningkatkan harga dirinya, dan status tersebut hanya dapat diperoleh melalui kelompok tertentu yang menurut pemikiran mereka identik dengan kelompok fundamantalis, dan jihad adalah harga mati untuk mencapai tujuan itu.

Pola Gerakan

Radikalisme menyusup ke berbagai sektor sosial dengan memanfaatkan simbol, sentimen dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brain wash) kepada mereka yang masih pemula dalam belajar Islam.

Maka menjadi penting memahami pola gerakan ini. Menganalisa hanya pada level kasus kejadiannya tidak akan menyelesaikan akar masalahnya. Sebab pada kenyataannya, terdapat jalinan logis yang mengoneksi bahwa gerakan indoktrinasi radikalisme di kampus berbanding lurus dengan aktivitas gerakan indoktrinasi radikalisme di level pendidikan di bawahnya, yakni di level SMA/SMK/MA atau bahkan level SMP/MTs.

Dari beberapa temuan riset, pola gerakan radikalisme di sekolah biasanya melalui tahapan yang sistimatis. Pertama, para tutor menyebarkan ideologi radikal dengan menanamkan kebencian pada negara dan pemerintahan dengan sebutan “thogut”.

Kedua, siswa yang sudah masuk jaringan biasanya menolak menyanyikan lagu kebangsaan, terlebih-lebih hormat bendera. Ketiga, ikatan emosional pada ustadz, senior dan kelompoknya lebih kuat daripada ikatan keluarga dan almamaternya.

Keempat, kegiatannya tertutup dan ekslusif. Kelima, kewajiban membayar fa’i untuk membersihkan dosa. Keenam, berpakaian khas yang menurutnya sesuai syari’at dan biasanya sinis terhadap yang lain. Ketujuh, di luar kelompok mereka adalah fasiq dan kafir sebelum hijrah bergabung dengan mereka. Dan kedelapan, enggan dan bahkan menolak mendengar ceramah di luar kelompoknya.

Setelah lulus dari SMA/SMK/MA dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi, bagi mereka yang menemukan antitesa pemikiran radikal setelah belajar perangkat nalar akademik, biasanya mampu berpikir kritis dan kemudian menjauh dari kelompok ini.

Namun bagi mereka yang tidak mendapatkan “pencerahan”, biasanya bersikukuh dengan keyakinan ideologisnya. Dalam beberapa kasus, ketika tidak mendapatkan posisi sosial menguntungkan di masyarakat, mereka bisa lebih mengakar lagi, apalagi bila mendapatkan jabatan penting di kelompoknya.

Persoalan radikalisme bukan hanya persoalan “kesederhanaan” kognitif dalam beragama. Lebih dari itu, ada pemicu besar lainnya yang lebih bersifat “berbahaya”.

Menurut Roy J. Eidelson dan Judy I. Eidelson dalam artikel “Dangerous Ideas” yang dimuat dalam jurnal American Psychologist (2003), ada lima gagasan dan kepercayaan berbahaya yang jika terjadi pada seseorang bisa menyebabkan perasaan tidak senang, tidak percaya diri, gelisah dan gangguan neorosis. 

Jika terjadi pada kelompok, dapat memicu kekerasan antar kelompok, yakni superioritas, ketidakadilan, kerentanan, ketidakpercayaan dan ketidakberdayaan. Lima gagasan berbahaya ini jika bersinergi dengan struktur kognitif sederhana dalam beragama dapat memicu lahirnya radikalisme.**

 Penulis adalah Dosen STEI Bina Cipta Madani Karawang, Ketua Komisi Pendidikan MUI Purwakarta, dan Dewan Fakar ICMI Orda Purwakarta

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook