Banner Atas

Dosen, Menulis, dan Kebangkitan Umat

Bagikan Berita:

Oleh: Muhammad Awod Faraz Bajri*

Akademisi adalah orang yang tercerahkan dan terpelajar. Kelompok Intelektual harus memposisikan diri menjadi kelompok moderat yang tidak tersekat ideologi yang demargatif. 

MEREKA terdepan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan fundamental yang terjadi pada bangsa ini. Kelompok intelektual harus berwawasan luas, berfikiran terbuka, dan bukan partisan kelompok politik tertentu. 

Analisisnya harus cerdas, tepat. Retorikanya harus jalan. Metodologi berfikirnya harus tajam. Membangun narasi yang mencerdaskan umat dan rakyat. Tidak membangun narasi yang mengarah kepada wilayah klenik seperti yang dilakukan sebagian elit Politik Indonesia dengan sebutan sontoloyo politik dan genderewo ekonomi. 

Saya mencari dalam beberapa kajian politik dan ekonomi tidak menemukan istilah itu. Prinsip dalam demokrasi kita tidak mengenal istilah itu sehingga membingungkan para pengajar ilmu politik dan ilmu ekonomi. Istilah itu mungkin ada dalam wilayah klenik.

Kelompok intelektual harus meluruskan seorang pemimpin yang salah jalan dalam memimpin negara, siapapun Pemimpinnya. Kelompok akademisi tidak tepat beralih profesi menjadi elit Politik.

Tugas seorang akademisi adalah memberikan pencerahan kepada umat, melakukan pengabdian kepada masyarakat dan memberikan solusi konstruktif terhadap persoalaan yang terjadi dalam masyarakat. Mereka melakukan penelitian yang mutakhir, inovatif dan mencerdaskan sesuai dengan fungsi Tridarma Perguruan Tinggi.

Kelompok akademisi harus berfikiran terbuka, kritis, sistematis, dan rasional. Tidak boleh kaku dalam memahami persoalan. Menghargai setiap perbedaan yang terjadi dalam masyarakat multikultural. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh siapa pun.

Kelompok tercerahkan harus memilik integritas, kredibilitas dan moralitas yang baik. Ruh seorang akademisi harus ditransformasikan dalam dunia yang konkret. Sesuatu yang abstraks-teoritis harus diterjemahkan dengan narasi yang membangun kecerdasan. 

Membangun argumentasi yang logis, tepat sasaran. Seorang akademisi harus memiliki ketenangan dalam menyampaikan gagasan-gagasan besar. Terutama akademisi muslim harus tetap berpedoman kepada Al Quran dan Hadist serta menjalankan falsafah Pancasila dengan baik dan benar.

Dunia timur harus memiliki konstruksi berfikir yang tepat serta metodologi yang kuat. Kita tidak mesti terus belajar kepada Peradaban Barat. Kita harus menjadi pemain handal dalam percaturan lokal dan international. Akademisi harus memiliki terobosan-terobosan besar dalam menghadapi persoalaan besar yang terjadi dalam bangsa ini. 

Bangsa kita adalah bangsa besar. Kita adalah Indonesia dan Indonesia adalah kita. Hakikatnya kita adalah umat yang satu, sebangsa dan setanah air untuk bersama sama menggelorakan kebaikan di ruang publik demi kemaslahatan bangsa dan negara.

Bangsa yang harus memiliki harga diri di hadapan negara negara lain. Seorang akademisi tidak boleh merasa dirinya paling pancasilais, paling NKRI, paling menjaga NKRI. Tugas kita adalah menjaga negara Indonesia dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Semua anak bangsa memiliki hak untuk memberikan kontribusi positif atas keberlangsungan proses berjalannya negara ini dengan cara berbeda. Seorang akademisi tidak  tepat mengatur kebenaran orang lain. Menjadi akademisi yang mampu menghormati pandangan-pandangan orang lain dengan bijak dan positif.

Dosen tidak boleh berhenti belajar dan menulis. Ketika dosen berhenti menulis maka secara etika dosen pun harus berhenti mengajar. 

Bagaimana mungkin dosen akan memberikan dialektika pencerahan kepada umat, rakyat tetapi di sisi lain kita berhenti untuk menulis baik dalam bentuk jurnal, media massa, buku. Perkembangan Ilmu pengetahuan bergerak dengan cepat maka dosen perlu memperkuat referensi-referensi mutakhir.

Dosen menjadi lokomotif utama dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, baik dalam pengajaran untuk memberikan dialektika pencerahaan, pengabdiaan masyarakat untuk membantu menyelesaikan problem yang terjadi di masyarakat, serta melakukan penelitian dan inovasi-inovasi baru. 

Dosen tidak boleh dan kurang etis ketika menjadi partisan kelompok tertentu. Dosen harus menjaga integritas, kredibilitas dan moralitas sebagai seorang akademisi.

Perguruan tinggi harus mewajibkan dosen-dosen untuk terus belajar dan menulis. Perguruan tinggi harus memberikan funishment dan reward buat dosen-dosen yang menulis dan tidak menulis. Seorang akademisi harus memposisikan diri sebagai kelompok tercerahkan dan tidak boleh menjadi partisan kelompok tertentu. Semoga tulisan ini menjadi spirit untuk kita supaya bisa melahirkan narasi-narasi positif untuk kemaslahatan umat, bangsa dan negara.**

 

Penulis adalah Dosen STAI Al Muhajirin Purwakarta

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook