Banner Atas

Parpol Pragmatis dan Caleg Oportunis

Bagikan Berita:

oleh: Asep Gunawan*

Genderang pesta demokrasi pemilihan anggota legislatif (pileg) 2019 sudah lama ditabuh, bertepatan dengan ditutupnya pendaftaran bakal calon legislatif (bacaleg) oleh KPU pada Selasa 17 Juli 2018. Setelah lolos verifikasi administratif dan jajak pendapat publik, bacaleg selanjutnya ditetapkan sebagai calon legislatif (caleg).

SETELAH itu, seluruh caleg akan bertarung dalam kontestasi politik memikat hati publik. Yang perlu dicatat, sebagaimana pada pileg sebelumnya, yang memiliki peluang besar adalah caleg yang secara modal politik lebih siap.

Secara teoritik, di samping dibutuhkan modal “amunisi” yang kuat, modal awal yang dibutuhkan setiap caleg adalah modal popularitas. Modal awal ini akan membantu memudahkan ketika melakukan proses komunikasi politik dengan publik, terutama dalam meningkatkan level ketersukaan publik pada dirinya, yang ujungnya diharapkan elektabilitasnya menguat di hati publik.

Caleg tanpa modal popularitas akan bekerja lebih ekstra, apalagi bila tidak didukung dengan modal “amunisi” yang mumpuni. Ketika caleg lain sudah berkomunikasi politik lebih intensif, dia mungkin baru bersiap memperkenalkan diri ke publik.

Dalam sebuah kontestasi politik, start awal sangat menentukan jalan kontestasi selanjutnya. Logika ini yang umumnya menjadi frame of refference partai politik (parpol). Dianggap riskan bila mengandalkan caleg yang belum siap secara modal politik, sekalipun dia adalah kader militan yang mungkin saja sudah puluhan tahun mengabdi sebagai kader partai.

Kecenderungan menggunakan jalan pintas politik adalah bagian dari sisi pragmatisme parpol hari ini. Dalam konteks ini, terutama dalam ikhtiar mengejar target electoral-threshold, pragmatisme parpol sepertinya sulit dihindari.

Bagaimanapun, esensi politik adalah memenangi kontestasi politik guna mencapai kuasa (how to get the power). Terkait bagaimana nanti memeliharanya (how to use the power) yang tentunya sangat beririsan dengan level kompetensi dan integritas caleg, seringkali dijadikan urusan belakangan.

Pragmatisme Parpol

Pragmatisme adalah “ideologi” yang menolak ide bahwa pikiran manusia dapat menjelaskan dan memotret realitas atau fenomena secara obyektif dan apa adanya.

Madzhab pragmatis berpandangan bahwa pemahaman atas realitas atau fenomena hanya bisa dibenarkan jika menghasilkan sesuatu yang bermanfaat (utility). Dengan kata lain, realitas atau fenomena direduksi secara praktis kepada dimensi manfaat dan keuntungan semata.

Cara berpikir yang dipakai untuk memahami realitas atau fenomena, tiada lain adalah cara berpikir kemanfaatan (utility), yang seringkali dalam praktiknya direduksi juga untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Berdasarkan konstruksi makna ini kita dapat memahami pragmatisme parpol di Pileg 2019. Pragmatisme politik tidak mengenal fanatisme ideologis dan kesetiaan abadi pada ideologi parpol.

Hari ini, idealisme politik sudah menjadi barang langka. Pamornya tersingkirkan oleh pragmatisme politik yang esensinya membuka ruang sebesar-besarnya bagi siapapun untuk memahami dinamika politik berdasarkan kepentingan berdimensi manfaat yang umumnya jangka pendek.

Hanya ada satu kepentingan yang hendak dikejar, yakni kekuasaan. Perlombaan parpol memajang deretan artis dan pesohor negeri, tidak syak lagi dilakukan dalam konteks pragmatisme politik.

Dengan asumsi pragmatis bahwa modal popularitas dan modal “amunisi” yang mapan lebih memungkinkan mencapai kemenangan atas kekuasaan, maka terjadilah “simbiosis mutualisme”.

Terjadi tautan untuk saling memanfaatkan antara dua kepentingan. satu sisi, parpol membutuhkan tipikal caleg dengan modal politik yang lebih siap; sementara di sisi lain, selalu ada tipikal manusia yang memanfaatkan momentum untuk meningkatkan eksistensi di panggung kehidupan yang lebih besar.

Dalam catatan di desk KPU, ada 54 artis dan pesohor negeri yang siap berkontestasi di Pileg 2019. Dengan percaya diri sepuluh parpol (yaitu Nasdem 27, PDIP 13, PKB 7, Berkarya 5, Golkar 4, Demokrat 4, PAN 4, Perindo 3, Gerindra 3 dan PSI 1), memasang dan mem-publish ke publik. Hanya PKS, PPP, Hanura, PBB dan Partai Garuda, yang tidak memanfaat eksistensi mereka.

Oportunisme Caleg

Ada logika yang harus diluruskan dalam praktik politik di negeri ini. Asumsi bahwa popularitas dan modal “amunisi” itu adalah segalanya, jelas itu bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan.

Ibarat seseorang sudah menjejakkan satu kakinya untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, dia butuh kaki yang satunya untuk memperkuat pijakan. Ini yang sering dilupakan caleg-caleg dengan popularitas dan modal “amunisi” mapan seperti halnya para artis dan pesohor negeri.

Dalam prosesnya, agar level ketersukaan publik pada dirinya meningkat dan elektabilitasnya bertambah, setiap caleg harus “berdarah-darah” memperkuat kompetensi dan level integritasnya, serta konsisten melakukan komunikasi politik intensif dengan publik.

Bila tidak dilakukan, publik hanya akan mengenalnya sebagai “oportunis” yang hanya memanfaatkan momentum pileg. Sangat keliru mengasumsikan publik dengan asumsi pragmatis. Publik dianggap selesai dengan suguhan popularitas dan modal “amunisi” semata.

Dalam praktik kekuasaan di negeri ini, meminjam ungkapan Antonio Gramsci (1971), praktik kekuasaan dominasi yang dikonstruksi dengan cara-cara represi (yang salah satunya menggunakan logika pragmatis) akan memudar, diganti praktik kekuasaan hegemoni yang esensinya hanya dapat diperoleh dan dioperasikan melalui kepemimpinan moral dan intelektual.

Seiring dengan level kecerdasan politik publik yang terus meningkat, publik tentu tidak ingin jatuh kembali dalam lobang yang sama. Termasuk dalam menyikapi parpol pragmatis dan caleg oportunis ini.**

*Penulis adalah Dosen STEI Bina Cipta Madani Karawang, Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Politik Fikom Unpad, Dewan Fakar ICMI Orda Purwakarta

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
STIA LAN Memerdekakan Orang Jalanan https://t.co/sxYeBNNjWV
PurwasukaNews.com
Saepul Rosad Nugraha: “Saya Siap Jadi Pelakor!” https://t.co/FRZLZ97GcF
Follow PurwasukaNews.com on Twitter