Banner Atas

“Perang Tempe” dan Suara Arus Bawah

Bagikan Berita:

Oleh : Asep Gunawan*

Seperti sudah diprediksi, memasuki enam bulan pra-pencontrengan, kontestasi Pilpres 2019 diramaikan dengan beberapa peristiwa politik menarik yang menjadi trending topics berminggu-mingu. Diksi dan gimik politik dengan variannya yang menarik direkayasa sedemikian rupa oleh dua kubu yang berhadapan.

DARI sekian diksi dan gimik politik tersebut, yang paling menarik adalah “perang tempe” antara Sandi Uno versus Jokowi. Diksi dan gimik politik tentang tempe yang dilontarkan Sandi Uno ketika kukurusukan ke pasar tradisional, bergayung-sambut dengan diksi dan gimik politik Jokowi ketika kukurusukan di pasar tradisional.

Jika Sandi Uno menyebutkan tempe setipis kartu ATM – sebagai wacana kritik terhadap fakta ekonomi tempe, maka Jokowi perlu meng-counter dengan mengungkapkan bahwa harganya tetap dan ukurannya masih tebal.

Diksi dan gimik politik keduanya sangat menarik. Bukan saja karena konteksnya adalah the battle of economy political yang memang menjadi konsentrasi pasangan Prabowo-Sandi, namun yang lebih substansial karena diskursusnya berkaitan era dengan simbol kepentingan masyarakat “arus bawah”. Konstruksi sosial tempe sampai saat ini dipersepsi masih sebagai simbol ekonomi kelas bawah. Keberpihakan politik pada tempe berarti keberpihakan kepada masyarakat “arus bawah”. Kritik Sandi melalui diksi dan gimik politik tempe sepertinya keuna mamarasna.

Jokowi menganggap perlu melakukan counter attack yang cantik. Bila dibiarkan liar, bisa membahayakan posisi elektoralnya yang selama ini kental dengan label wong ndeso, sederhana, dan merakyat.

Gimik Politik

Walaupun samar dari mana awalnya, gimik diyakini berasal dari istilah orang Amerika pada awal abad ke-20. Dalam “Oxford Dictionary” disebutkan bahwa gimik kemungkinan diambil dari istilah slang para artis dan pesulap untuk memanipulasi penampilan mereka agar berbeda dari kenyataannya (that it may have originally been a slang term for something that a con artist or magician manipulated to make appearances different from reality). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai gimik sebagai gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran.

Di dunia marketing, gimik adalah salah satu strategi pemasaran produk dengan menggunakan cara-cara yang tidak biasa agar cepat dikenal. Dalam analisis ilmu politik, gimik sering digunakan sebagai diksi kritik. Dari sini muncul istilah political-gimmick dan marketing-gimmick, melengkapi term lainnya yang sudah populer, seperti framming, play victims, dan “hoax”.

Dalam marketing politik, gimik digunakan sebagai salah satu strategi pemasaran produk politik dengan menggunakan cara-cara yang tidak biasa, khas, dan unik. Dengan bantuan resonansi media, gimik politik bertujuan untuk secepatnya menarik perhatian dan membangun emosi publik, sehingga kesan dan citra positif dari produk politik yang dipasarkan terbangun secara masif. Kesan dan citra adalah gambaran realitas dunia menurut persepsi kita (pictures in our head) yang mungkin saja tidak sesuai dengan realitas sesungguhnya (Lippman,1965).

Kesan dan citra politik biasanya terkonstruksi berdasarkan informasi yang diterima melalui media (baik massa ataupun sosial), yang bekerja membentuk dan merekayasa, mempertahankan, serta meredefinisikan kesan dan citra politik tersebut. Secara teoritis, ada dua pendekatan penting terkait dengan pembentukan kesan dan citra politik ini. Pertama, teori pengelolaan kesan (impression management) yang memandang citra sebagai kesan seseorang atau satu organisasi terhadap orang lain atau organisasi lain.

Dan kedua, teori pembangunan citra (image building) yang menegaskan bahwa kesan dan citra akan terlihat atau terbentuk melalui proses penerimaan secara fisik (panca indra), masuk ke saringan perhatian (attention filter), lalu menghasilkan pesan yang dapat dilihat dan dimengerti (perseived message). Kemudian berubah menjadi persepsi dan akhirnya membentuk kesan dan citra.

Dramaturgisme

Diakui atau tidak, kehidupan politik hari ini persis seperti interaksi kehidupan di sebuah swalayan. Ada penjual, pembeli, barang yang dikemas unik, serta etalase yang didesain menarik. Pembeli umumnya lebih tertarik memilih kemasan unik dan etalase menarik dibandingkan dengan kualitas dan harga barang yang dijual. Rasionalisasinya dalam kehidupan politik, kemasan dan etalase produk politik dianggap lebih menarik dibandingkan dengan deretan prestasi dan gagasan.

Fakta sosial-politik inilah yang menjadi argumen aktor-aktor politik di Pilpres 2019 untuk tetap mengandalkan strategi marketing politik dengan gimmick, framming, play-victims, atau bahkan “hoax”. Karena dalam perspektif interaksi-simbolik, realitas menyiratkan prinsip psikologi sosial yang disebut Horton Cooley (1902) sebagai looking glass self (cermin diri), di mana seseorang mengevaluasi dirinya sendiri atas dasar sikap dan perilaku orang lain terhadapnya.

Dalam penegasan George Herbert Mead, sebelum bertindak, seseorang biasanya membayangkan dirinya dalam posisi orang lain dengan harapan-harapan orang lain, dan mencoba memahami apa yang diharapkan orang itu. Realitas kejiwaan manusia ini yang mengilhami Erving Goffman merumuskan dramaturgisme sebagai perspektif penting dalam memahami keunikan interaksi-simbolik manusia.

Bagi Goffman, selalu muncul interaksi-simbolik yang berbeda ketika seseorang ada di “panggung-depan” dan “panggung-belakang”. Pilpres 2019 hanyalah satu di antara panggung politik besar di negeri ini. Kurang lebih enam bulan ke depan, masyarakat Indonesia disuguhi tayangan dramaturgisme beragam diksi dan gimik politik dari aktor-aktor politik di Pilpres 2019.

Namun publik tentu sudah belajar banyak dari pengalaman. “Perang tempe” hanyalah satu panggung dramaturgis yang bertujuan menarik suara masyarakat arus bawah yang populasinya mayoritas di negeri ini. Penulis meyakini, ujungnya, hanya capres-cawapres autentik dan identik yang akan menjadi pilihan masyarakat “arus bawah”.***

*Penulis adalah Ketua STEI Bina Cipta Madani Karawang, Dewan Fakar ICMI Orda Purwakarta, dan Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Politik FIkom Universitas Padjadjaran Bandung.

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter