[OPINI]: Dramaturgi Politik, Sebuah Panggung Selebrasi

Bagikan Berita:

oleh : Agil Nanggala

Dinamika Politik

Pesta politik tinggal menghitung hari. Bertujuan memperebutkan tahta agar bisa menanggung nasib hidup orang banyak, spanduk hingga pamflet terpasang bak pahlawan yang akan membawa harapan perubahan. Jargon hingga visi misi disulap sedemikian rupa, supaya menarik perhatian massa. Inilah pesta demokrasi, yang katanya sebagai salah satu jalan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

PEMILU kepala daerah secara serentak akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Ini mewajibkan masyarakat menggunakan hak pilihnya sebagai bukti menjadi warga negara yang baik. Karena pemilihan akan menentukan arah pembangunan daerah 5 tahun ke depan.

Ironi masyarakat masih ada yang belum paham mengenai esensi tersebut. Dan menjadi celah yang dimanfaatkan oknum politikus dalam menggiring suara publik. HIngga melahirkan psudo demokrasi, atau demokrasi semu.

Dalam keseharian, politisi terus bergerilya dalam meraih citra publik. Maklum, pemenang politik sangat ditentukan publik. Mereka terjun ke tempat yang kita anggap sebagai “medan juang”.

Karena modal telah terbagi, maka kemenangan menjadi harga mati. Maklum, ongkos politik dalam negara yang berpegangan pada demokrasi langsung terbilang mahal. Untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, politisi membutuhkan alat peraga dalam menopang elektabilitas dan kesuksesan mereka dalam pemilu, hiasan yang pada akhirnya menjadi  polusi politik.

Jangan hanya menjadi dramaturgi, pesta politik seharusnya menjadi perhelatan yang ditunggu publik. Politisi jangan hanya bersandiwara,  tapi harus memperlihatkan keseriusan dalam membawa perubahan.

Pada akhirnya politisi yang murni untuk mengabdi, ceritanya akan abadi, dan namanya terukir di hati masyarakat.

Purwakarta Memilih

Sebuah kota yang penuh cerita, membuat mereka yang berkelana, menjadi rindu. Mereka ingin kembali, dan pada akhirnya harus kembali menentukan “siapa calon pemimpinnya”. Dengan geografi yang strategis, Purwakarta menjelma menjadi daerah yang diperhitungkan sampai ke tingkat manca negara.

Hal tersebut tidak lepas dari faktor pemimpinnya. Siapa saja yang akan menjadi pemimpin Purwakarta pada hari selanjutnya, harus siap dengan ekspektasi tersebut. Karena sebagai kota yang sedang tumbuh dengan signifikan, dibutuhkan pemimpin yang memiliki kapabilitas untuk mewujudkan hal tersebut.

Pesta politik, seperti pemilihan umum, membuat peluang masyarakat semakin besar dalam partisipasinya membangun bangsa, sebagai pejabat publik tentunya. Hal ini juga terjadi di Purwakarta, dengan disahkannya tiga pasangan calon, membuat panggung politik di Purwakarta menarik untuk diamati.

Mereka terus berbicara mengenai visi Purwakarta menjadi kota yang berwibawa nantinya.

Purwakarta memiliki ciri khas unik, di mana terdapat daerah industri, agraris, dataran tinggi maupun rendah, ada yang memiliki kepercayaan tertentu dan yang lainnya. Ini mengharuskan politisi yang ikut berkontestasi memiliki inovasi tertentu dalam berkampanye, memperebutkan hati masyarakat Purwakarta. 

Terlanjur menancapkan paku, mereka harus saling beradu, baik visi  misi, gagasan dari kemanusiaan sampai dengan kesejahteraan. Lumrah memang. Karena dengan kemenangan mereka bisa mewujudkan idealitasnya di Purwakarta.  

Politisi yang mengikuti kontestasi harus sadar akan pentingnya politik yang beradab.  Tak boleh menghalalkan segala cara untuk kepentingan jangka pendek. Di atas kepentingan politik ada kepentingan umum. Maka dari itulah setelah berjibaku, politisi harus kembali berkerja sama dalam membangun bangsa.

Ada idiom bahwa hukum penguasa adalah “memperluas haknya dan mempersempit kewajibannya”. Itu terjadi jika seorang politisi telah nyaman dalam kedudukannya sebagai penguasa. Mereka melupakan idealismenya.

Semoga hal tersebut tidak terjadi di Purwakarta. Jemu jika masyarakat terus disuguhi oleh sandiwara politik yang lucu.

Politik untuk Kesejahteraan

Mahiru dalam novel Guren “Bencana 16 Tahun yang Menghancurkan Dunia”, pernah bermimpi hidup bersama Guren selamanya. Tetapi dengan status keluarga Mahiru yang bangsawan, dan Guren yang hanya dari keluarga biasa, mereka tidak pernah bisa bersatu.

Hal itu membuat Mahiru menjadi pribadi yang ambisius, menghalalkan segala cara untuk dapat bersama Guren, bahkan keluarga dan manusia yang tidak berdosa menjadi korban. Dalam politikpun seperti itu. Akan rugi jika menghalalkan cara hanya demi kefanaan dunia.

Politisi yang berjiwa besar akan mampu menahan kekecewaannya jika maksud yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Pada hakikatnya mereka yang berpolitik adalah mereka yang peka terhadap kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam artinya mereka yang ingin mempercepat terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, salah kaprah jika mewujudkan keadilan sosial bagi pribadi.

Esensi yang tidak boleh dilupakan politisi, jangan sampai Purwakarta menjadi tempat bertarung merebut kuasa, lalu entah sampai kapan akhirnya.***

Penulis adalah mahasiswa Departemen Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Panelis Godok Tema untuk Debat Publik 2 https://t.co/OEi9RJdM5M
PurwasukaNews.com
Debat Publik 1 Hambar, Tim Sukses Salahkan Microphone https://t.co/0x04GsCj35
Follow PurwasukaNews.com on Twitter