Banner Atas

Antara Baraya dan Rumah-rumah Reyot

Bagikan Berita:

Pembangunan infrastruktur di Purwakarta terbilang sangat pesat. Air mancur di tengah Situ Buleud sedemikian megah. Masyarakat, bahkan dari luar Purwakarta, menyemut setiap malam minggu di sana. Tapi, mestinya ingat pula bahwa di Purwakarta masih banyak warganya yang menempati rumah yang tak layak huni.

KONDISI itu menginspirasi komunitas yang menamakan diri sebagai Baraya. Komunitas ini berinisiasi membantu warga yang memiliki rumah reyot di Purwakarta. Dananya? Berasal dari hasil patungan dan donasi dari orang-orang yang peduli.

Seperti yang baru saja dilakukan di Gang Masjid Baiturrahmah RT 14/06 Kelurahan Purwamekar Purwakarta. Baraya membongkar rumah milik pasangan suami istri, Amsor-Atikah. Setelah tanah rata, kembali dibangun rumah sederhana dengan dana sebesar Rp 17 juta.

Tentu saja Amsor-Atikah sumringah. Pasangan ini tak menyangka rumahnya bakal dibedah. Sebelumnya, mereka bermimpi pun tidak. Dibantu warga sekitar, Amsor bersemangat mengangkut material agar rumah barunya segera berdiri.

Siapa Baraya? Tentu itu yang menjadi pertanyaan. Baraya merupakan komunitas yang dibentuk Agus Sugianto, calon legislatif dari PAN di dapil Kota Purwakarta. Anggotanya sudah berjumlah ribuan.

Aktifitas Baraya tak melulu soal bagaimana menghantarkan Agus agar berhasil menjadi anggota dewan. Baraya justru lebih konsens di bidang sosial kemasyarakatan. Salah satunya ya bedah rumah ini.

Sebagai penggagas komunitas Baraya, Agus Sugianto mengaku bangga memiliki orang-orang yang peduli. Orang-orang yang ingin bermanfaat bagi sesama.

“Saya tahu ini masa kampanye. Tapi bedah rumah bukan kegiatan politik. kalau pun ada orang yang menghubung-hubungkan dengan politik, ya taka pa-apa. Malah saya bersyukur, karena kegiatan saya ini bisa memotivasi caleg lain agar berbuat yang sama,” kata Agus pekan lalu.

Dia melanjutkan, semakin banyak caleg yang membedah rumah warga, maka semakin banyak pula warga yang tertolong, “Itu yang saya mau. Yang jelas, kita jangan terlalu mengandalkan dan membebani pemerintah. Sepanjang kita mampu, ya lakukanlah,” tandas Agus.

Untuk membuktikan bahwa ini bukan kegiatan politis, Agus bersama Baraya berencana membedah rumah di luar wilayah dapil-nya. Masyarakat yang perlu ditolong bukan hanya masyarakat yang berdomisili di dapil saya,” katanya.

Agus mengaku terharu dengan masyarakat Purwamekar yang masih memiliki jiwa gotong royong. Di lokasi bedah rumah Amsor-Atikah, belasan warga ikut terlibat. Mereka bahu-membahu mendirikan rumah berukuran 3X6 Meter itu. Diperkirakan rumh itu akan rampung dalam waktu 10 hari.

Kalau pun ada yang disesalkan, adalah ketidakhadiran unsure pemerintah kelurahan setempat. Dikatakan Agus, selayaknya Lurah Purwamekar hadir dalam acara bakti sosial tersebut, “Nyatanya Pak Lurah tak ada. Padahal kami sudah memberi tahu,” kata Agus.

Rp 20 Ribu Jadi Rumah

Amsor, penerima bantuan, tampak ceria sepanjang bedah rumah berlangsung. Sebentar lagi dia akan menempati rumah baru. Kendati sederhana, toh rumah barunya akan jauh lebih layak dibanding bangunan rumah sebelumnya. Bukan hanya kumuh, tetapi juga lapuk dan reyot.

Nuhun kanggo Baraya, Pak Agus, sareng warga Purwamekar. Bantosanna ditampi pisan,” tutur Amsor. SAking terharunya, dia mengaku tak bisa mengungkapkan kata-kata selain berterimakasih.

Pasangan Amsor-Atikah hidup berdua saja. Mereka dikaruniai dua anak. Anak keduanya tinggal di Jakarta menjadi asisten rumah tangga. Sedangkan anak pertamanya tinggal di Cilamaya. Sudah lama Amsor menderita ambien. Penyakitnya itu menghambat aktifitasnya dalam mencari nafkah. Wajar jika selama ini pasangan tersebut hanya mengandalkan bantuan dari warga sekitar.

Kondisi seperti Amsor-Atikah merupakan sisi mengenaskan sebuah kabupaten bernama Purwakarta. Masih banyak amsor-amsor lain di antero Purwakarta. Mereka perlu disentuh, bukan melulu disuguhi gemerlap air mancur dan gapura-gapura yang menjulang.

“Banyak cara untuk berbagi. Asalkan ada niat dan dilakukan tanpa pretensi,” kata Agus. Menurut politikus PAN ini, salah satu cara berbagi adalah dengan menyisihkan sedikit harta.

“Dengan Rp 20 ribu saja, kita bisa membangun sebuah rumah,” ujar dia. Caranya, imbuh Agus, ajak warga yang mampu dan yang peduli. Jika ada seribu orang yang mampu menyisihkan Rp 20 ribu, maka itu sudah cukup untuk membangun rumah sederhana.

Inisiasi tersebut akan diwujudkan Agus dari internal Baraya terlebih dulu. Dikatakannya, kini Baraya beranggotakan 6.000 orang, “Di antara ribuan itu, ada anggota Baraya yang mampu. Nah, merekalah yang kelak akan berdonasi,” ujarnya.

Agus sudah meniatkan diri untuk menjadikan Baraya sebagai organisasi yang peduli sosial. “Kelak akan diadakan pelatihan entrepreuner agar anggota Baraya menjadi pengusaha-pengusaha handal,” kata Agus.(bes)     

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Antara Baraya dan Rumah-rumah Reyot https://t.co/LhXsFxjBBi
PurwasukaNews.com
Empat Begal Beraksi di Cikopak, satu Ditembak https://t.co/eRQyjj4NJL
Follow PurwasukaNews.com on Twitter