[OPINI]: Neneng dalam Lawatan Dedi Mulyadi

Bagikan Berita:

oleh: Widdy Apriandi

"Tidak ada kemuliaan dalam kemiskinan," ungkap Jordan Belfort--yang diperankan Leonardo Di Caprio--kepada bawahannya di film bertajuk "Wolf of The Wall Street".

POTONGAN fragmen dialog itu selalu saya ingat betul. Melekat kuat di benak saya. Tak dapat disangkal, pernyataan itu ada benarnya juga. Pada faktanya, memang kemiskinan tidak menyisakan kebanggaan sama sekali. Alih-alih, yang muncul ke permukaan adalah ironi dan bahkan tragedi.

Ambil kata, rentetan kasus kriminal yang biasa kita tonton di layar kaca. Tak sedikit aksi pembegalan dan pembunuhan dipicu desakan ekonomi. Hilang akal sehat gegara tekanan hidup yang terlampau berat.

Belum lagi, ekspresi putus asa akut yang kini nyaris akrab muncul dalam keseharian kita. Selalu ada orang yang nekat jual organ tubuh sendiri. Termasuk, banyak pula yang tak malu jual diri selagi bisa jadi sumbu penyambung hidup.

Ngeri? Iya. Tapi, itulah kenyataan. Dan masalahnya, potret realitas lebih sering berseberangan dengan gambaran a la sinema. Yang miskin tak mesti dibela. Pun, yang kaya tidak selalu bijaksana.

Neneng Siti Maesaroh, ibu dua anak asal Cianjur, Jawa Barat, adalah satu dari sekian banyak potret buram kemiskinan di Indonesia. Profilnya miris, sungguh! Dari unggahan video Purwakarta Galuh Pakuan TV di channel youtube resminya, terpapar segala sisi diri Neneng ; difabel, janda akibat dicerai suaminya dan jelas hidup dengan segala keterbatasan.

"Terbatas" dalam arti secara ekonomi. Sekaligus, barangkali empati orang sekitar. Sebab sama-sama miskin. Siapa tahu?

Miris. Ditambah, sebuah pengakuan bahwa demi menjalani hari demi hari ia terpaksa mengemis. Meminta-minta, meski ia mafhum kalau itu memalukan. Tapi, apa daya. Kondisi fisik tak memungkinkan ibu dua anak itu untuk bekerja.

Namun, bagaimanapun, hidup harus tetap berjalan. Orang boleh menghakimi macam-macam, tapi toh perut anak tidak akan kenyang berkat wejangan. Naluri ibu mengalahkan segalanya. Termasuk, sekat batin paling nadir bernama "martabat". Apapun caranya, anak harus tetap bertahan.

Hingga akhirnya, sengkarut ruang-waktu mempertemukan Neneng dengan Dedi Mulyadi (DM) di momen gempungan yang dihelat di Cianjur, Jawa Barat. Untuk pertama kalinya Neneng bertemu fisik dengan DM. Dan lagi, pada momen perdana itu pula ia kontan beroleh uluran tangan konkret. Ia mendapat uang tunai sebesar Rp 15 juta!

Uang itu tidak 'gratis'. Melainkan, ada akad yang mengikat Neneng dan DM. Yaitu, kesediaan Neneng untuk 'pensiun' sebagai pengemis. Sebagai gantinya, uang itu dipakai sebagai modal bikin warung kecil-kecilan di rumahnya.

"Mau nggak berhenti ngemis?" tanya DM langsung kepada Neneng di sela hajat gempungan. Neneng menyanggupi. Tanpa paksaan. Sekalian, dipenuhi gempita suka cita.

Maka, bagai bumi dan langit, Neneng yang dulu bukanlah yang sekarang. Kini, ia adalah bos bagi usahanya sendiri. Lebih bertenaga. Plus, jauh lebih bermartabat.

Tangan yang dulu terbuka untuk meminta, kini jadi perantara transaksi sukarela. Tak ada relasi tuan-hamba dalam rentang kelas sosial yang menyesakkan. Alih-alih, dalam ke-sebagaian-nya yang sekarang, bagi Neneng yang eksis adalah relasi bisnis. Penawaran dan permintaan. Setara. Demokratis.

Manusia dan Sistem Syaraf Cermin

Saya merasa tak perlu repot-repot menyisipi epilog. Biar petikan fenomena tersebut kita nilai masing-masing. Anda boleh menafsir. Begitu pula saya.

Hanya, film dokumenter bertajuk "I Am" yang saya tonton tadi malam memberi saya perspektif baru soal kehidupan. Yaitu, bahwa ternyata manusia tidak didesain untuk saling berkompetisi. Tetapi, justru untuk saling bekerjasama.

Pada sistem syaraf kita, ada model yang dikenal sebagai sistem syaraf cermin. Berbekal mekanisme tersebut, maka duka yang dialami orang lain bisa dirasakan pula oleh diri kita. Kita menyebutnya sebagai "empati".

Pada konteks itu, terlepas dari apapun spekulasi yang berkembang seputar gempungan, perlakuan DM terhadap Neneng adalah sesuatu yang luar biasa. Malah, idealnya, aksi konkret macam begitu perlu dilakukan oleh banyak orang.

Tebar kebaikan agar menjadi kebaikan beruntun, kata Tere Liye. Dan saya sepakat. Sebab, siapapun yang berada pada kondisi terjepit macam Neneng niscaya butuh pertolongan. Percayalah, berada di titik nadir itu tidak menyenangkan!**

Penulis adalah pemerhati sosial sekaligus founder kedai kopi "Bandit" - Purwakarta

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
FK UIP Desak Panwas Serius Tangani Kasus Kades Jadi Pengurus Parpol https://t.co/A2mGqFgQPF
Follow PurwasukaNews.com on Twitter