[OPINI]: Minimnya Pendidikan di Desa Ciramahilir

Bagikan Berita:

oleh: Saidah

Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif, mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia.

PENDIDIKAN merupakan hal yang wajib yang harus diperoleh setiap anak. Bagaimana tidak, pendidikan bisa dikatakan menjadi modal utama untuk bisa menjalani kehidupan ini.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal 3 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun saat ini masih banyak anak yang putus sekolah. Terutama yang terjadi di Desa Ciramahilir, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta. Perlu kita ketahui ada beberapa faktor yang mempengaruhinya., diantaranya sebagai berikut:

Di Desa Ciramahilir kebanyakan anak perempuan putus sekolah, karena mereka menikah di usianya yang masih muda. Mereka beranggapan bahwa lebih baik menikah daripada harus sekolah. Karena sekolah itu dianggap hanya membuang waktu, dan perlu biaya banyak.

Memang secara agama, pernikahan mereka sah. Namun secara hukum negara tidak sah. Karena seperti yang dijelaskan dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun1974 tentang Perkawinan Bab 2 Pasal 7 Ayat 1 yang berbunyi;

Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

Masalah pernikahan dini inilah yang sering terjadi di Desa Ciramahiliir. Sangat sulit untuk mengatasinya, karena pernikahan adalah satu hak bagi semua manusia termasuk anak usia dini. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadist, Rasullullah SAW bersabda. “Menikah itu sunah kami. Siapa yang membenci sunnahku maka bukan dari golonganku.”

Selain pernikahan dini, faktor yang menyebabkan anak putus sekolah adalah lemahnya ekonomi orang tua. Kurangnya pendapat orang tua menyebabkan orang tua terpaksa bekerja keras mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari.

Sehingga pendidikan anak kurang diperhatikan dengan baik. Bahkan di Desa Ciramahilir anak laki-laki sering membantu orang tuanya dalam mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari.

Misalnya anak membantu orang tuanya bertani, berkebun, bahkan pergi ke Jakarta untuk menjadi seorang tukang kuli bangunan.

Alasan ketidakmampuan ini memang tidak dapat dipungkiri, karena seperti yang sudah diketahui bahwa angka kemiskinan di indonesia cukup tinggi. Hal ini memberikan dampak yang tidak baik terhadap masa depan pendidikan anak.

Faktor berikutnya yang menyebabkan anak putus sekolah di Desa Ciramahilir adalah jarak. Jarak yang di tempuh oleh anak sangat jauh, terutama anak yang sekolah SMA. Untuk menempuhnya mereka harus menggunakan kendaraan bermotor.

Meskipun saat ini sudah ada  bus sekolah, namun bus itu kurang memadai karena hanya ada satu. Sedangkan jumlah anak di Desa ciramahilir sangat banyak.

Beberapa faktor itulah yang menyebabkan anak-anak di Desa Ciramahilir, Kecamatan Maniis, Purwakarta putus sekolah. Hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk dapat mengurangi tingginya angka anak putus sekolah.***

*Penulis adalah mahasiswa STAI KHEZ Muttaqien Purwakarta

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter