[OPINI]: Antara Calon Bupati dan Cilodong  

Bagikan Berita:

Oleh: Tatang Budimansyah

Dulu Cilodong kumuh. Jauh dari kesan asri. Deretan warung yang tampak semarak di lokasi itu, sangat tak sedap dipandang mata. Dulu, Cilodong disebut-sebut sebagai sisi buruk wajah Purwakarta.

LOKASI ini, mau tidak mau, menyimpan banyak penggalan sejarah. Kehadiran warung remang-remang yang  berderet di sekitar Cilodong, selalu menjadi bahan makian dan cibiran.

Wajar, karena dulu warung-warung itu konon dijadikan sebagai tempat prostitusi. Maka pemkab pun meradang. Para petinggi kabupaten ini tak ingin Purwakarta yang sebelumnya dikenal sebagai Kota Santri, menjadi Purwakarta Kota Lendir.

Masih teringat ketika Purwakarta dipimpin Bupati Bunyamin Dudih. Dengan kekuatan penuh, Bupati Bunyamin membumihanguskan tempat itu. FPI yang saat itu intens memerangi kemaksiatan, turut hadir dalam pembongkaran. Para tokoh agama, menyambut baik langkah Bupati Bunyamin.

Tapi entah mengapa, saat itu sisi gelap Cilodong masih kentara. Pada era bupati berikutnya,  yakni Bupati Lily Hambali Hasan, Cilodong tetap menjadi target. Kendati tidak melakukan pembongkaran secara masif seperti  Bupati Bunyamin, Bupati Lily pun tak kalah sengit meredam praktik kemaksiatan.

Berbarengan dengan itu, Lily punya megaproyek. Namanya Gedung Islamic Center (GIC). Tadinya diharapkan keberada GIC akan merubah citra Cilodong. Tapi citra itu tak pernah berubah, karena GIC tak kunjung berdiri. Dan masa kepemimpinan Bupati Lily pun berakhir. Penggantinya, mantan Wakil Bupati Dedi Mulyadi.

Sama seperti para pendahulunya, Bupati Dedi punya obsesi merubah citra kawasan Cilodong. Setumpuk strategi sudah ada di benaknya. Kendati hanya sporadis, pembongkaran dilakukan.

Hingga pada akhirnya, sebentar lagi berdiri masjid raya di kawasan itu. Sebuah tempat peribadatan yang cukup megah, yang membalikkan keadaan Cilodong dari kumuh menjadi nikmat dipandang.

Anggap saja nantinya Cilodong benar-benar terbebas dari praktik prostitusi. Tapi, apakah ini akan menjamin para lelaki hidung belang menjadi kehilangan tempat hangat? Sebab, lelaki jenis ini tak akan berhenti beraktifitas, hanya karena warung-warung Cilodong ditutup.

Bicara soal dunia prostitusi, yang menjadi obyek bahasan adalah wanita penjaja seks komersial (PSK). Mereka selalu diposisikan sebagai pemeran utama. Padahal jika tak ada lelaki hidung belang, para wanita itu tak bakal mau mengobral pangkal pahanya.

Mereka pasti lebih senang menjadi tukang jahit, tukang mie ayam, atau menjadi buruh pabrik. Jadi, ini pekerjaan rumah (PR) Bupati Purwakarta produk Pilkada 2018.

Memberangus praktik maksiat, haruslah komprehensif. Jika tidak, upaya itu hanya menjadi mubazir, kalau tidak mau dikatakan sia-sia.

Sayangnya, langkah para bakal calon bupati Purwakarta yang hendak maju pada Pilkada 2018 belum sampai ke tahap itu. Langkah mereka terkerangkeng oleh perasaan harap-harap cemas. Ya, cemas, jangan-jangan tak diusung oleh partai koalisi.

Pikiran mereka masih berkutat pada perkara bagaimana kelak mencari donatur jika pada akhirnya berhasil diusung. Pikiran mereka masih terpasung oleh hasil survei-survei internal partai yang tak satupun diinformasikan secara transparan ke hadapan publik.** 

*Penulis adalah Penikmat Pers

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter