[OPINI]: Politik Pragmatisme Parpol Menjelang Pilgub Jabar 2018

Bagikan Berita:

oleh Muhammad Faraz Bajri*

Drama Politik Pilgub akan semakin menarik untuk dicermati ketika elit Golkar pusat tidak mencalonkan Kang dedi yang notabenenya ketua DPD Golkar Jawa barat dan Bupati Purwakarta dua periode ini. Padahal kader-kader akar rumput menginginkan pimpinannya ikut meramaikan bursa demokrasi Pilgub Jawa Barat 2018.

TETAPI keinginan kader sepertinya tidak direspon secara positif oleh DPP Golkar dengan alasan berdasarkan hasil survei posisi kang DM berada di urutan ketiga.

Lantas apakah hasil survei akan menentukan kemenangan seorang calon? Belum tentu! Kita bisa bercermin pada Pilgub 2013 bahwa Kang Aher tidak diunggulkan dalam survei bahkan posisinya berada di bawah di antara kandidat yang ada. Tetapi akhirnya Kang Aher menjadi Gubernur Jawa Barat dua periode.

Kemenangan kandidat tak bisa diukur oleh survey. Apalagi kalau surveinya tidak jelas metodologinya dan berapa sample yang diambil. Mengingat masyarakat Jawa barat ada sekitar 53,4 Juta dengan hak pilih sekitar 48,6 Juta.

Kita bisa melihat dengan fakta bahwa lembaga survei dalam politik modern sudah banyak diragukan kredibilitas serta Integritasnya. Terutama cara operasionalisasi survei pun masih banyak dipertanyakan publik keabsahaan dan keakuratannya.

Research  adalah business trust. Outputnya bisa langsung jadi dengan digarap petugas data processing. Menginputnya mengunakan data imaginer dan sampel tidur lalu keluar program run lalu bikin jumpa pers masuk pundi-pundi uang ke para konsultan Politik.

Itulah yang sekarang dilakukan para konsultan politik abal-abal. Kemenangan kandidat akan ditentukan oleh visi misi program kerja diantara kandidat yang berlaga dalam pilgub. Termasuk menawarkan roadmap pembangunan Jawa Barat lima tahun ke depan. Dan, yang mampu meyakinkan para pemilih serta memberikan strategi menyelesaikan persoalaan yang semakin kompleks, terutama pendidikan yang berada di pedalaman.

Golkar merupakan pemenang ke dua di Jawa Barat setelah PDI-P. Sangat wajar ketika kadernya ingin menghantarkan pimpinannya menjadi gubernur.

Saya kira hampir rata-rata pimpinan parpol menginginkan hal yang sama karena hakikatnya berpolitik adalah untuk mendapatkan kekuasaan sesuai dengan teori yang digunakan di hampir setiap negara "A man by nature A political animal" How to us the power and How to get the Power"

Tetapi politik bermartabat dengan penuh etika dan moral hakikatnya yang menjadi pemimpin sejati. Akan tetapi dalam dunia politik modern sebagian elit sudah mengunakan kaidah filsafat Macheevelli, bahwa untuk mendapatkan kekuasaan dengan segala cara termasuk dengan menabrak norma dan aturan dalam sebuah sistem kepartaian.

Termasuk dengan mengorbankan kader yang memiliki integritas dan kredibilitas. Karena hakikatnya dalam politik integritas itu tidak berlaku. Itu menjadi sebuah keniscayaan sosiologis yang terjadi dalam dunia politik yang penuh dengan intrik yang keluar dari nalar sehat.

Agama dan politik secara prinsip adalah dua satuan sejarah yang berbeda hakikatnya. Agama adalah kabar gembira dan peringatan. Nilai dan norma yang harus senantiasa dijaga dengan baik terutama oleh para elit politik. Politik tanpa agama hanya akan melahirkan pengkhianat bangsa. Walaupun dalam praktiknya khutbah agama hanya menjadi bahan tertawaan para politisi yang sudah enak berada dalam lingkaran kekuasaan yang kotor.

Agama adalah kekuaatan dari dalam dan politik kekuataan dari luar. Kalau agama dan politik dihadirkan dalam Pilgub Jabar, saya memiliki keyakinan akan melahirkan pemimpin yang visioner, bermartabat, berakhlak, berempati dan berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Tetapi saya melihat justru nilai agama mulai dihilangkan dalam kancah politik Jabar. Kembali ke persoalan Golkar, saya memiliki keyakinan walaupun akhirnya DPP menjatuhkan pilihan ke RK untuk menjadi cagub yang diusung Golkar, tetapi di akar rumput belum ada jaminan sama sekali mengikuti instruksi dari DPP untuk mengamankan suara Ridwal Kamil.

Walaupun saya melihat ada beberapa DPD tingkat kabupaten akan mengikuti instruksi DPP, itu bisa jadi hanya sebatas retorika politik untuk menghormati keputusan DPP.

Tetapi secara psikologis akan berbalik arah mempertahankan komitmennya dengan Kang Dedi. Komitmen moral dan etika jauh lebih enting ketimbang diukur dengan uang.**

*Penulis adalah Dosen Sosiologi Agama STAI Al Muhajirin Purwakarta

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter