[OPINI]: Meraba Arah Koalisi di Pilkada Purwakarta 2018  

Bagikan Berita:

oleh: Hadi Saeful Rizal, S.Sos.I, M.Pd*

Beberapa waktu lalu KPU Purwakarta dan Panwaslu Purwakarta menggelar rapat pleno, membahas tiga poin penting perihal tahapan pilkada yang mesti dilalui pasangan calon bupati dan wakil bupati Purwakarta 2018. Baik pasangan calon perseorangan, maupun calon yang diusung partai politik.


DI ANTARA poin yang dihasilkan, sesuai dengan peraturan KPU (PKPU). Persentase untuk jumlah minimum dukungan calon perseorangan, sesuai dengan Undang Undang (UU) itu ditemukan jumlah. Bahwa untuk mencalonkan di Pilkada Purwakarta 2018, jika maju melalui jalur perseorangan, maka harus mengikuti beberapa tahapan yang telah ditentukan. 


Mengingat jumlah penduduk Purwakarta kurang dari satu juta jiwa, maka untuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) calon perseorangan, harus memenuhi syarat dukungan calon perseorangan pada Pilkada Purwakarta 2018.

Bakal calon harus mengantongi dukungan sedikitnya 7,5 persen dari jumlah DPT pada Pemilu sebelumnya, (Pemilu 2014), yakni sebanyak 48.542 ribu dari 647.326 suara pemilih.

Sementara, calon bupati dan wakil bupati Purwakarta yang ingin maju melalui jalur dukungan partai bisa mengusung calon pada Pilkada 2018, harus memiliki sedikitnya 20 persen dari jumlah kursi di parlemen. Yakni 9 kursi dari total 45 kursi atau 25 persen dari jumlah suara sah pada Pileg 2014. 118.998 ribu dari 475.993 ribu suara.

Aturan tersebut mengacu pada PKPU nomor 1 Tahun 2017 dan KPU menetapkan Pilkada Purwakarta akan dilaksanakan serentak pada 27 Juni 2018. Aturan yang telah ditentukan berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2016 pasal 40 ayat 1. 

Aktual Konstelasi Koalisi

Ramai dalam pemberitaan dan media sosial sejak September 2017 ini, arah koalisi di Pilkada Purwakarta telah mengarah kepada dua paket koalisi besar. Pertama, koalisi yang digalang adem ayem oleh Partai Golkar (8 kursi), Hanura (4 kursi), dan PAN (3 kursi). Total 15 kursi.

Kedua, Koalisi Kemerdekaan yang dihuni oleh PKB (5 kursi), PPP (4 kursi), Nasdem (4 kursi), dan Demokrat (3 kursi). Total 16 kursi. Dua paket koalisi ini jika bulat dan solid, sudah lebih dari cukup untuk bisa mengusung  pasangan cabup/cawabup.

Sisa yang belum menentukan sikap hanya ada dua partai,  yakni PDIP (8 kursi) dan Gerindra (6 kursi). Keduanya menurut aturan KPU 20 persen, atau minimal 9 kursi, tentu masih kurang. Dan jika jalan sendiri-sendiri, keduanya tidak memenuhi syarat untuk mengusung cabup/cawabup. Jika ingin terpenuhi syarat itu, Gerindra-PDIP harus melakukan koalisi, tentu sesuatu hal yang agak mustahil.

Kenapa mustahil? Karena kedua partai ini adalah dua kutub koalisi di pusat. PDIP kutub koalisi KIH, Gerindra kutub koalisi KMP. Secara flatform kepartaian, keduanya adalah pengusung resmi lokomotif figur dipertarungan Pilpres 2014 lalu, yang kemungkinan episode keduanya akan terulang di Pilpres 2019. Khusus bagi Gerindra, bakal calon bahkan ada komitmen khusus untuk mendukung pencapresan Prabowo 2019.

Lalu ke mana kira-kira Gerindra dan PDIP Purwakarta ini bergabung? Dalam kacamata penulis, keduanya kemungkinan menentukan arah koalisi menjelang akhir setelah terbaca lebih jelas, putusan akhir usungan resmi paslon di Pilgub Jabar. 

Untuk konteks Purwakarta, mau tidak mau, suka tidak suka, paket tergantung sang figur Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Golkar Dedi Mulyadi yang hendak maju di Pilgub Jabar. Ukuran konstelasinya, jadi tidaknya maju Dedi diusung melalui jalur rekomendasi DPP Golkar. Jika ya, maka PDIP Purwakarta mengekor ke paket pertama. Jika tidak, bisa jadi ikut ke koalisi kedua.  

Mari kita coba baca pola langkah, di level dukungan Pilgub Jabar saat ini, Nasdem dan PKB telah bulat mendukung Ridwan Kamil (RK) di Pilgub Jabar. Maka kita lihat di koalisi Purwakarta, arahan DPP parpolnya hampir segaris dalam satu  intruksi fatsun koalisi. Itu contoh saja. Karena yang lainnya belum bulat dan resmi.

Kembali ke koalisi parpol Purwakarta, arah koalisi di Pilbup Purwakarta ini, seolah akan terbentuk dua paket saja. Pertama Jalur estafeta yang sementara diisi Golkar, Hanura, PAN. Dan jalur seberang, diisi PKB, PPP, Demokrat, Nasdem.

Semua partai dalam dua koalisi gemuk tadi, asumsi penulis menyatu karena menyadari dua hal. Pertama, karena sadar partainya kurang kursi untuk mengusung calon sendiri. Kedua, proses mengikuti naluri pilihan berpolitik. 

Yang jelas, kedua koalisi gemuk tadi, seolah tidak ingin ketinggalan gerbong sebagai partai pendukung sekaligus pengusung resmi di KPU Purwakarta. Namun, koalisi yang terbentuk itu, bisa remuk redam, jika terjadi pilihan-pilihan paket paslon yang lebih realistis yang diusung di masa-masa injury time.

Fase tarik ulur paslon yang akan diusung, tentu menjadi penentu dua koalisi ini menimbang ulang dan berfikir keras "who get what?" Siapa dapat apa? Ketika realistis mengacu pertimbangan-pertimbangan hasil survei misal, atau terdapat mahar politik yang jelas dari paslon untuk biaya (cost) politik menggerakkan mesin partai sampai ke tingkat ranting, menjadi pertimbangan inti kedua koalisi itu.

Semakin gemuk koalisi, tentu semakin besar biaya yang mesti dikeluarkan paslon untuk parpol pengusung. Jika sudah begitu, proses awal yang terjadi koalisi akan saling intip dulu dompet paslon, dan lobi-lobi cadas, keras bab isi dompet ini akan mengerucutkan akhir soliditas koalisi. Jika menemukan titik temu, dua koalisi ini lanjut, jika tidak, bisa berantakan dan membentuk pola baru.

Berseliwerannya bakal calon bupati Purwakarta, di mata parpol tak cukup hanya isi dompet, visi misi, atau tampang atau jabatan apa. Tapi rational choice, berdasar hasil survei dan kemampuan bakal calon dalam akselerasi terjun ke masyarakat merebut hati calon pemilih, selama masa sosialisasi individual sebelum dipinang gabungan parpol untuk didaftarkan ke KPU. 

Karena diam-diam parpol mengukur, mengintip dan menilai studi kelayakan sang bakal calon walau senyap-senyap. Terlebih ada durasi tiga  bulan dari saat ini. Di sisi lainnya, masyarakat masih dan akan terus menilai kinerja parpol dalam memverifikasi proses dukungan menjadi usungan.

Di perang jalur darat, kinerja mesin-mesin kader, tim sukses calon dipertaruhkan dalam memaksimalkan sosialisi bakal calon. Di samping perang jalur udara melalui peran media-media elektronik dan internet (medsos).

Kini masyarakat Jawa Barat, khususnya Purwakarta, sudah memasuki fase masa masyarakat era digital. Atau para sosiolog menyebutnya masyarakat milenial. Di mana pergerakan diukur dari arus informasi yang beredar di media sosial.

Karena bukan usia pemilih potensial seperti ABG saja yang mengerti medsos dan memegang Hp android. Anak-anak, bapak-ibu bahkan aki-aki nini-nini, dipastikan 75 persen membaca pola pergerakan arus informasi dan isu melalui medsos sebagai hubungan saling memengaruhi di perang udara. 

Hal lain yang mesti diingat, adalah 10 tahun terakhir masa kepemimpinan Dedi mulyadi sebagai Bupati Purwakarta. Daya jelajah akselerasi kang DM ini cukup menggurita, dan berat dihapus beitu saja.

Artinya, terlepas dari pro kontranya, kualitas individu calon bupati mendatang yang diusung parpol, harus memiliki bekal untuk melebihi standard itu. Kedua harus mempunyai tim buldozer yang setara bahkan lebih dengan yang telah dibangun kang DM. 

Sebagai penutup, penulis mengingatkan bahwa syahwat politik itu insting. Ia buas seperti halnya insting membunuh seekor harimau saat lapar. Yang terkuatlah yang akan bertahan. Kedua, mengingatkan para calon, jika proses pencalonan ini hanya sekadar untungan-untungan, alias babaledogan dan susuganan.

Jika proses politik ini hanya sekadar begitu, saran penulis sebaiknya jangan dilanjutkan, karena kita harus bersiap menguras dompet, yang biaya politik itu nilainya miliaran.

Jika diasumsikan itu digunakan untuk tujuan ibadah, bisa membangun ratusan masjid, membantu fakir miskin, atau lainnya yang jelas menjadi nilai investasi yang lebih menjanjikan tidak hanya di dunia. Wallahu'allamu bi shawwab.**

Penulis adalah pengamat politik Purwakarta & Direktur Institut Holistika Education 

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter