Memahami Pancasila dari Kejo Pulen

Bagikan Berita:

Boleh saja ada yang nyinyir bahwa apa yang terjadi pada Sabtu malam 5 Agustus 2017 lalu adalah sebuah acara hura-hura melulu. Puluhan ribu orang memenuhi antero kota Purwakarta sembari menyeka peluh. Riuh rendah dan gempita.

Tini, salah seorang pelajar SMP berbaur dengan puluhan ribu orang. Dia begitu ceria. Sambil sesekali menyeka peluh di dahinya, perempuan 14 tahun ini tak bisa menyembunyikan rasa anatusiasmenya mengikuti Karnaval Ngarak Beas Perelek.

“Saya membawa beras. Dan beras ini sebentar lagi akan menjadi milik mereka yang tak mampu. Saya bangga bisa berbagi,” kata Tini setengah berteriak karena suasana di sekitar tempatnya berdiri sedemikian riuh dan memekakan telinga.

Tini beruntung berasal dari kalangan keluarga yang berkecukupan.  Sepanjang hidupnya, dia tak pernah menelan satu butirpun Raskin alias beras untuk orang miskin. Meski masih berusia belia, dia tahu bahwa masih banyak warga di Purwakarta yang mengonsumsi Raskin karena ketiadaan uang.

Dan karnaval ini semakin menyadarkan Tini untuk saling berbagi, “Karnaval ini menjadi jembatan antara saya dengan mereka yang merindukan beras berkualitas,” kata Tini, masih setengah berteriak.

Malam itu perasaan Tini dan puluhan ribu peserta lainnya tergugah. Rupanya, ini bukan sekadar aksi hura-hura, “Maknanya sangat dalam, kereeeeen,” katanya sembari mengacungkan jempol tangannya.

 Merdeka dari Raskin      

Berbusana serba putih, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi didampingi Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri. Berbaur dengan peserta karnaval Ngarak Beas Perelek, Bupati Dedi mengatakan bahwa karnaval Ngarak Beas Perelek berarti berjalan kaki berbarengan untuk memperlihatkan hasil bumi berupa beras.

 “Purwakarta kompak mengumpulkan beras. Malah, mulai 17 Agustus 2017 kami targetkan  warga Purwakarta bebas Raskin,” kata Bupati Dedi. Dia melanjutkan, agar warga Purwakarta tak lagi mengonsumsi Raskin, maka warga yang mampu mesti berbagi dengan warga miskin. "Semua berpartisipasi, dari kalangan pemerintahan hingga swasta," ujar Bupati Dedi. 

“Sebentar lagi di setiap desa akan ada ATM Beras. Warga miskin yang membutuhkan tinggal menggesek kartu, dan keluarlah beras. Ini pertama di Indonesia,” kata Bupati Dedi.

 Dia melanjutkan, pada dasarnya manusia mempunyai sifat adil dan beradab. Secara eksplisit tertuang dalam butir kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Kita tak boleh tidur nyenyak manakala masih ada tetangga yang kelaparan. Untuk itu, sukseskan program Bank Beras Perelek. Warga Purwakarta kudu ngadahar kejo pulen. Kita harus merdeka dari Raskin,” tandasnya.

 Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri atau biasa disapa Puti Guntur Soekarno Putri mengaku takjub atas apa yang digagas Bupati Dedi, “Alhamdulillah, Pancasila membumi di Purwakarta,” kata cucu Presiden Soekarno ini.

 Simbol Kemakmuran

Tak ada yang bisa menyangkal bahwa Bupati Dedi cerdik dalam membaca moment. Saat ini, isu soal Pancasila tengah menjadi santapan media massa nasional, malah internasional.

Banyak pihak yang ingin mempertegas kembali soal jiwa ‘kepancasilaannya’. Pihak lain ada yang merasa terpojokkan karena dituding sebagai orang atau kelompok yang bukan pancasilais. Jargon-jargon pun bermunculan.

Propaganda terus digencarkan pemerintah agar orang-orang yang dianggap tak seideologi dengan Pancasila kehilangan ruang di bumi Indonesia. Demi persatuan dan agar Indonesia tetap adem ayem, propaganda ini memang perlu dilakukan.

Dalam konteks Purwakarta, Dedi Mulyadi dan segenap warganya punya cara tersendiri untuk mempertegas jiwa ‘kepancasilaannya’. Maka, Hari Jadi Purwakarta ke-186 dan Kabupaten Purwakarta ke-46 tahun 2017 ini mengusung tema Sunda Spirit Pancasila.

Acara digelar sedemikian rupa sehingga esensinya bertautan dengan butir-butir yang ada dalam Pancasila. Dan karnaval Ngarak Beas Perelek merupakan satu dari sejumlah kegiatan perayaan hari jadi tersebut.

Karnaval yang memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) ini diikuti oleh lebih dari 50 ribu peserta. Semua peserta kompak menjinjing ruas bambu yang di dalamnya berisi beras.

 Karnaval Ngarak Beas Perelek diawali pukul 19.00 dari Pertigaan patung Egrang di  Jalan Sudirman, dan berakhir di Jalan Martadinata. Di sela ribuan peserta itu, ada tarian yang menampilkan sosok Nyai Pohaci, sebagai simbol kemakmuran di ranah Sunda.

Tini dan puluhan ribu peserta karnaval terus bersukacita. Jutaan bahkan miliaran butir beras berhasil terkumpul malam itu. Beras itu dipastikan bukan Raskin, tapi beras berkualitas yang sebentar lagi dikonsumsi warga tak mampu. Dengan begitu, ternyata tak terlalu sulit memahami Pancasila, hanya dengan beas pulen alias beras berkualitas yang tak pera untuk warga miskin.**(bes)

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter