Potret Kebersahajaan Itu Bernama Karapyak

Bagikan Berita:

SAMBIL disuapi ibunya, Asep Salman bercerita soal pengalaman hari-hari pertamanya di sekolah. Asep yang baru kelas satu di Sekolah Dasar Al Barokah ini tampak bersukacita.

Rabu (26/7) siang, Asep baru saja sampai rumah. Baru sembilan hari dia memulai bersekolah. Tak heran kalau dia masih ditemani ibunya. “Jam lima lebih seperempat saya berangkat dari rumah,” kata sang ibu.

Asep dan ibunya berjalan kaki selama sekitar satu jam untuk sampai ke sekolah. Khawatir di perjalanan ada ular berbisa, ibu Asep membawa senter. Matahari memang belum muncul.

Jalan yang mereka lalui memang tak seperti jalan-jalan di perkotaan. Pulang sekolah, kembali mereka berjalan kaki. Rutinitas itu yang mereka lakoni.

Asep Salman merupakan salah satu dari puluhan pelajar lainnya asal Kampung Karapyak, Desa Cicadas, Kecamatan Babakancikao, Purwakarta. Di kampung itu jangankan gedung sekolah, bangunan yang disebut masjidpun wujudnya tak sebagus mushala di perkotaan.

Mushala di tempat ini berupa bangunan panggung seluas 5 X 10 Meter. Sepanjang mata memandang di Kampung Karapyak, tak terlihat bangunan yang berdinding tembok. Rumah-rumah penduduk yang berjumlah sekitar 70 jiwa ini umumnya berdinding bilik.

Bersyukur, dengan infrastruktur yang minim, minat para pelajar di kampung ini tetap menggelora. “Anak-anak di sini sudah terbiasa berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Ya, hitung-hitung olahraga,” kata Abet (43) penduduk setempat.

Abet juga memiliki anak yang bersekolah di Al Barokah yang terletak di Kampung Congeang. Namanya Euis Santika. Kini dia duduk di bangku kelas lima. Berbeda dengan Asep Salman, perempuan cilik itu tak diantar orang tuanya. Dia pergi dan pulang sekolah bareng dengan teman-temannya.

Beruntung, sekarang belum tiba musim hujan. “Kalau musim hujan, anak-anak harus nyeker menenteng sepatu. Soalnya tanahnya mengandung lumpur dan sulit dilalui oleh motor,” kata Abet.

Seperti warga lainnya, Abet yang mengaku asal Cianjur ini bekerja sebagai penggembala kerbau dan domba. “Kerbau-kerbau yang kami pelihara, milik orang lain dengan sistem bagi hasil,” kata Abet sambil menyeruput segelas teh manis yang disuguhkan Masripah, istrinya, di beranda rumahnya.

Abet memiliki rumah panggung. Rumahnya tampak lebih lumayan daripada rumah milik warga lain. Di samping kiri rumahnya, ada sebuah kamar mandi berdinding terpal plastik biru. Kamar mandi itu merangkap pula sebagai tempat mencuci piring dan pakaian.

Tak jauh dari sana, ada sumur sedalam 1,5 Meter dengan diameter 80 Centimeter. Sumur itulah sebagai sumber air untuk segala keperluan rumah tangga.

Sayangnya, intensitas hujan yang mulai jarang, membuat sumur tersebut kekurangan air, meski tak benar-benar kerontang. Kedalaman air hanya sekitar 20 Centimeter. Saat menciduknya dengan menggunakan ember, air tampak kecoklatan disertai butir-butir lumpur.

“Untuk keperluan minum, kami mengendapkannya terlebih dulu selama satu hari, supaya lumpur benar-benar mengendap,” kata Masripah. Dan jika air sudah tak mencukupi lagi untuk keperluan sehari-hari, perempuan berusia 35 tahun ini mesti turun ke Sungai Ciampel jika hendak mencuci pakaian.

Menjelang maghrib, lampu-lampu yang dialiri tenaga surya mulai dinyalakan. Tapi jangan harap warga di sana bisa menonton TV, karena kapasitas tenaga listrik dari pembangkit surya ini tak mencukupi.

Maka, hiburan paling asyik sehari-hari warga Kampung Karapyak pada malam hari adalah mengobrol dengan sesama tetangga setelah seharian bekerja. Atau nongkrong di depan satu-satunya warung yang ada di kampung itu.

Ya, hanya ada satu warung di Kampung Karapyak. Itu pun tak lengkap. Untuk membeli gas elpiji, warga tetap harus pergi ke Kampung Congeang yang kondisinya sedikit lebih ngota.

Penasaran dengan kondisinya yang serba minim infrastruktur, anggota Komisi IV DPRD Purwakarta Isep Syafrudin Yahya menyambangi Kampung Karapyak, Rabu (26/7).

“Saya tak ingin hanya mendengar kondisi Kampung Karapyak dari media massa. Saya ingin melihatnya secara langsung,” kata Isep. Di sana, Isep bertemu dan berdialog dengan warga.

Dari obrolan ngalor ngidul dengan warga, Isep berkesimpulan bahwa warga Kampung Karapyak membutuhkan masjid yang representatif, “Insya Allah saya akan membantu merenovasi masjid supaya lebih nyaman untuk beribadah,” kata politikus Partai Nasdem yang hendak mencalonkan diri menjadi Bupati Purwakarta ini.   

Selain Isep, Kampung Karapyak juga pernah dikunjungi Camat Babakan Cikao. Kepada para pejabat yang datang, umumnya warga tak menjual keluhan. Namun tentu saja jika ada pihak yang siap membantu mereka. Misalnya membangun masjid seperti yang hendak dilakukan Isep.

Soal kesulitan air, warga Kampung Congeang sepertinya pasrah. Karena, seperti yang diutarakan Abet, tanah di kampung tersebut banyak mengandung cadas. “Kalau kita menggali sumur, sekitar kedalaman 10 Meter pasti sudah mentok karena ada cadas hitam,” ujarnya.     

Kampung Karapyak bisa dilalui dengan berkendara motor. Masuk dari jalan Kampung Congeang. Jarak antara Kampung Congeang dengan Karapyak sebenarnya hanya sekitar 3 KM. Namun karena infrastruktur jalannya yang masih amburadul, perjalanan ke kampung tujuan terasa jauh dan lama.  

Karena jalannya masih tanah merah dan bergelombang, jalan menuju kampung itu tak bisa dilalui saat musim hujan.

Menggunakan mobilpun sebenarnya bisa, namun 500 Meter sebelum tiba ke Kampung Karapyak, pengendara harus keluar dari mobilnya dan berjalan kaki menelusuri jalan setapak. Setiba di kampung itu, siapapun akan disambut warga setempat dengan ramah. Mereka sangat bersahaja.(bes)

 

 

 

 

 

 

 

 

   

    

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Aming Diprediksi Bakal Gigit Jari https://t.co/lFc9FgXTRD
PurwasukaNews.com
Deni Ahmad Haidar Belum Tentukan Pilihan, KPUD atau Ansor https://t.co/T3U7zlXTgE
Follow PurwasukaNews.com on Twitter